Friday, July 3, 2009

Selembar Demi Satu

Selembar Demi Satu


Selembar demi satu terlampaui
Kata-kata didalam terasa membakar hati
Nurani tertohok meragukan
Kesadaran meracau menuntut logika baru

Selembar demi satu mengajak berlari
Deretan kata terangkai menguak misteri
Lantunan kata-katamu membius membangunkan
Tutur katamu bersanding berlarik bagai mantra

Selembar demi satu mengiris pengetahuan
Petuahmu menyalak, mentertawakan ilmu
Ajakanmu menolak kebisuan, mengajak turut serta
Ajaranmu melantunkan ujian bagi mereka yang menyimak

Selembar demi satu dan berhenti ku enggan
Duniamu terlalu menarik, tuk sekedar diintip
Jadi kusibak, dan tirai ku buang pergi
Biar terlihat jelas selembar demi satu semua gagasan

Selembar demi satu dan aku pun terbawa
Aksenmu menggambarkan dimana kau lalui waktu
Gurat keriput dalam syairmu memberi tekanan
Pada beratnya waktu yang kau tanggung

Selembar demi satu dan eramu berlalu
Selembar demi satu dan kau tak lagi mampu
Selembar demi satu janganlah kau ragu
Selembar demi satu biar kulanjutkan beban dipundakku


3 Juli 2009, 04:05

Kubawa Pulang

Kubawa Pulang


Muara pula yang membawaku pada akhir
Terlanjur mengikuti dia yang mengalir
Menilik titik-titik persinggahan
Menguraikan simpul-simpul persinggungan

Suaramu juga yang menolongku disepanjang
Mengamati perjalanan berkelok berliku
Terhenti di sepotong-sepotong waktu
Memberikan tanda pada makna yang tercipta

Uluran tangan sederet kawan terus saja
Menghindarkan celaka pada binar mimpi
Teriakan yang menamparkan peringatan
Berkelindan menyadarkan, ego terusirkan

Rasamu yang tetap sama pun
Terbangunkan olehnya kantukku
Memandang jauh yang masih terbentang
Menilik lewat yang sudah berlalu

Ingin selalu terulang lagi
Yang tak mungkin digelar lagi
Keindahan tak datang dua kali dalam sehari
Hanya selayang pandang kuhampirkan
Dan segenggam ingatan kubawa pulang

3 Juli 2009, 03:38

Kutemani

Kutemani


Hari dibuka lagi oleh suara alarm
Menggantikan sunyi yang mententramkan
Kesadaran belum melingkar penuh
Suntuk tetap terasa dipersendian dan lelah masih menggelitik

Hari ini tak lain, ulangan hari kemarin
Begitu saja tanpa terasa seperti belenggu
Mengikat rutinitas pada mata kaki
Menautkan kebosanan pada hati

Musim panas yang datang tiba-tiba
Merekahkan siang yang menyiksa
Menebarkan aroma bau
Yang menempel pada debu

Begitupula sore yang panjang terentang
Menarik ujung bayang-bayang memanjang
Meneggelamkan cahaya kedalam senja
Melupakan sekilas cerita yang tertutur siang tadi

Malam menjelang kantuk yang tertahan
Terperangkap dalam mimpi sebentar saja
Lalu mata melangkah mencari kelana
Jadi kutemani saja rembulan yang sedang merana


3 Juli 2009, 03:27

Wednesday, July 1, 2009

Kisanmu

Kisahmu


Pandanganmu meneguh, saat kau mulai kisahmu
Dan perlahan bibirmu menuturkan cerita
Yang tak kudengar sebelumnya
Tidak, tidak dari mereka

Kisahmu memanjang, seakan tanpa ujung pangkal
Karena awal tak lagi terlihat disitu
Dan perjalanan tak menuntutmu tinggal sejanak
Atau barang sebentar, menoleh yang tertinggal

Kelemahanmu yang kau tak akui, mengikat mudamu
Melarangnya kedepan, karena memalukan kiramu
Dan remajamu yang begitu memilukan
Tak juga kau ratapi, begitu saja kau lalui tanpa ekspresi

Saat kau ceritakan puncak-puncak kejayaan
Tuturmu mulai menyusun rima, mengembangkan puisi dalam bangga
Sementara kami terpekur menyimak
Dan merasakan suaramu yang seakan mendendangkan nyanyian

Betapapun kau berusaha, tuk tak terjebak
Kau akhiri juga kisahmu diujung senja
Melalui serangkaian petuah yang kau coba yakinkan
Selagi kau terawangkan pandang, mengenang

Kisahmu adalah kisah tentang keinginan
Ceritamu adalah tentang kemauan
Pencarianmu adalah tentang kebebasan
Dan diujungnya adalah tentang masa depan
Tentang kami

Selayang

Selayang

Selayang lalu menorehkan kesan
Wangi yang kau kirimkan sekejap
Menidurkan secuil kesadaran
Membius, menarik dan menenggelamkan

Sekejap pandang kau bekukan
Irama hidup yang letih ku iringkan
Menghentikan setapak waktu tempatku berlalu
Seakan dalam tayang ulang, menancapkan detil mendalam

Runtuhlah segala susunan aturan
Memutar balikkan segala yang terpatri
Perlahan kau tancapkan belati kerinduan
Tepat ditepi, dibatas jantung hati

Detik yang terus melaju, berbenah menuliskan waktu
Meninggalkan goresan penuaan
Mengusir usia segera berlari tanpa menoleh lagi
Sementara kau tak tergoyahkan

Kaujeratkan tali pada kaki hati
Kau jebak kegetiranku akan kehilanganmu
Hingga akhirnya seorang meyakinkanku
"Kita semua, pemula dalam cinta", ucapnya dalam senyuman

30 Juni 2009, 01:51

Andai Kau Tahu

Andai Kau Tahu


Kutuliskan kata yang kurangkai sekenanya
Membalas suratmu yang mengantarkan tanya
Yang kau tuliskan keras-keras
Mengitariku berteriak menuntut jawaban

Cepat otakku berputar
Memilih kata yang tepat benar
Yang semakin sulit kupilih
Diantara suara perut yang juga menuntut

Larikan kata darimu menambahkan penat
Pada lambungku yang mulai berkeringat
Hidangan yang terbayang nikmat
Tak kunjung tiba, hanya mengirimkan aroma

Lima menit akhirnya, yang kunanti datang tersaji
Kali ini tak hanya aroma menggoda
Namun seporsi nyata, yang menggugah selera
Dan menunggu tuk dijamah segera

Jadi kualihkan mata dari kata-kata
Dan kuhardik mulutku tuk segera bekerja
Ah andai kau tahu rasanya
Takkan kau marah, bila jawabku kutunda


27 Juni 2009, 00:15

Menemukanmu

Menemukanmu


Aku menemukan seutas senyum tulus
Ditepian sungai yang mengalir keutara
Senyum yang tak sering kau guratkan
Senyum yang kau perlihatkan di waktu-waktu perayaan

Aku menemukan sepenggal tawa
Ditengah hutan yang melintang ketimur
Tawa yang kau cipta terkadang
Tawa yang mengiringi saat-saat penemuan

Aku menemukan sekeping nafas
Di sepanjang perjalanan menuju sabana selatan
Nafas yang tak henti kau hembuskan
Nafas yang memapahmu berjalan

Aku menemukan sekejap kecupan
Di belakang matahari yang tenggelam di barat
Kecupan yang kerap kau selipkan
Kecupan yang kau berikan untuk menenangkan

Aku menemukan kehadiranmu
Dimanapun kuarahkan dua kakiku
Kehadiran yang menyertai
Kehadiran yang menguatkan, yang tak terganti


27 Juni 2009, 00:59

Kulihat komedi

Kulihat Komedi


Malam yang membosankan, kembali terulang
Perasaan penat menekankan wajahnya
Pada sepiring makan malam yang kuhadapi
Dengan perut lapar yang tak berselera

Dadaku kembang kempis memompa
Nafas yang mengembun didepan muka
Kaki yang terasa pegal, bergerak tak tentu
Mencari ruang untuk mengalihkan

Nyayian yang dilantunkan, terasa lambat
Seakan tayangan ulang yang dikemas lagi
Bibir sang vokalis merah hati
Mengeja rangkaian kata menenunkan syair

Semenatara dibalik kaca, diluar sana
Panggung komedi mulai memainkan kisah satire andalannya
Tentang dua wajah dunia
Yang pedih namun menggugah tawa

Seorang nona menggandeng pak tua
Merajuk mesra, membisikkan rencana-rencana
Sementara tak jauh
Sepasang wanita berpagutan dengan panasnya


27 Juni 2009a, 00:05

Usia Siklis dan Linier

Kadang-kadang saya berpikir agak dalam jika menghadiri perayaan ulang tahun. Baik ulang tahun teman, organisasi, perkumpulan ataupun ulang tahun kemerdekaan negara kita. Tidak jarang ada sesuatu yang spesial terkait dengan jumlah perayaan, semisal ulang tahun perak pada usia ke-25 dan ulang tahun emas pada usia ke-50. Dalam tradisi lain, ada ukuran tersendiri semisal dasawarsa (10 tahun) dan sewindu (8 tahun). Bila kita lihat secara khusus pada usia manusia,kuran-ukuran yang ada biasanya menandakan tingkatan tertentu pula, semisal tingkat kedewasaan ataupun kematangan seseorang, lihat istilah-istilah "sweet seventeen","life begins at forty", "usia setengah baya" dan "lanjut usia". Ungkapan-ungkapan tersebut meski tidak berada dalam suatu himpunan yang sama, namun memberi kita suatu contoh bagai mana ulang tahun dan usia, selalu berhubungan dengan penanda.

Yang menjadi pertanyaan adalah, sejak kapan usia dalam angka (1 tahun, 2 tahun,,dst) menjadi suatu ukuran. Hal ini menjadi penting, karena adanya sistem ini merubah beberapa hal, yang mungkin tidak menjadi penting bila sistem ini tidak dipakai.

Pada dasarnya usia hanyalah satu. Ya, usia hanya satu, dan itu dimulai saat seseorang dilahirkan dan berakhir saat seseorang meninggal, ini yang saya sebut "usia linier". Jadi usia itu tidak berulang, dan kita selalu bertambah tua serta menjalani pengalaman yang berbeda tiap waktunya. Ukuran berapa tahun yang kita sudah kita lewati, pada mulanya adalah hitungan untuk menghitung siklus musim, ini berkaitan dengan kepentingan mengetahui musim, baik untuk keperluan agraris, maupun perjalanan dagang pada jaman dulu. Nah, kemudian ukuran ini digunakan untuk menandai sudah seberapa lama waktu yang dihabiskan seseorang di dunia ini. Ukuran tahun, dasawarsa, windu adalah penanda jangka waktu tadi, nah ini yang saya sebut "usia siklis".

Semisal kita sandingkan kedua usia ini, akan kita dapati bahwa usia siklis menjadi titik-titik penanda pencapaian sesorang sepanjang usia liniernya. Misal, lahirusia 0th-sunat usia 13th-lulus kuliah usia 23th-menikah usia 27th-anak pertama usia 29th-cucu pertama usia 50th-pensiun usia 65th-meninggal usia 78th. Nah, bila kita lihat dari awal hingga akhir usia liniernya, terdapat penanda-penanda dimana ada pencapaian tertentu. Fungsi usia siklis disini adalah untuk memudahkan pengukuran dan penandaan pencapaian-pencapaian ini.

Bila kita lihat tradisi kakek-nenek kita,kelahiran seseorang biasanya ditandai dengan peristiwa yang terjadi pada tahun dimana seseorang lahir. Misal orang yang lahir pada 1945, akan diingat sebagi "lahir sewaktu Indonesia merdeka", orang yang lahir 1965 akan disebut "lahir pada saat Gestapu". Nah, dengan adanya perbedaan kebiasaan penggunaan ukuran usia inilah, kadang menimbulkan perbedaan, yang semisal dilihat pada satu kacamata saja menjadi persoalan yang pelik.

Pada kebiasaan lama di masyarakat kita, bila seseorang sudah mampu memegang telinga kiri denagn tangan kanan dengan melewati bagian atas kepala maka dia sudah saatnya masuk sekolah. Sedangkan pada masyarakat sekarang biasanya, anak masuk sekolah (Sekolah Dasar) pada usia sekitar 7 tahun, meskipun dia belum mampu memegang telinga seperti ditulis diatas tadi. Ini contoh kecil, dan tidak terlalu signifikan.

Menjadi penting, bila kita kaitkan dengan lembaga "Pernikahan". Pada masa lalu, dalam ukuran bangsa kita yang mayoritas Muslim, seseorang pria yang sudah balig (ditandai dengan pengalaman mimpi basah) dianggap sudah layak menikah. Sedangkan wanita yang sudah mendapatkan menstruasi, juga dianggap layak menikah. Ini dikarenakan kedua hal tadi adalah penanda matangnya organ reproduksi seseorang, sedangkan salah satu tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan, sesuai prinsip "banyak anak banyak rezeki" yang populer saat itu, pada masa agraris yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Maka tidak heran bila pasangan menikah di usia skitar 15 tahun bukanlah hal yang aneh, bahkan bila usia 20 tahun dan belum menikah akan dikatakan sebagai "perjaka/perawan tua".

Yang juga wajar terjadi, adalah pengantin pria yang jauh lebih tua dari pengantin wanita, katakanlah selisih 20 tahun. Ini dikarenakan dalam konteks masa itu, usia siklis belumlah menjadi patokan umum untuk menandai pencapaian-pencapaian seseorang. Jadi selama si pria sudah dewasa dan produktif dan si wanita sudah memasuki usia produktif juga, menikah dengan selisih usia yang sangat jauh bukanlah tabu.

Nah sekarang saya ingin mengulas bagian sensitif dari tulisan ini. Banyak kasus terjadi sekarang ini, pernikahan dengan mempelai wanita dibawah umur (umur siklis tentunya). Kebanyakan bila kasus terjadi pada seorang Muslim, maka kisah Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah diusia 9 th yang dijadikan patokannya. Mari kita coba renungkan. Kisah Rasulullah SAW terjadi seribu empat ratus-an taun yang lalu. Tentu dijaman itu usia siklis belumlah menjadi ukuran umum, alias belum menjadi penanda pencapaian tadi. Sehingga ukuran layak-tidaknya menikah adalah sudah mampu bereproduksi atau belum, bila kedua pasangan masih atau sudah mampu bereproduksi, tentu tidak ada maslah pada konteks jaman itu.

Menjadi kurang tepat, bila alasan yang sama digunakan pada jaman sekarang. Tentu alasannya bukan karena "ukuran penanda usia" yang berubah, namun lebih dikarenakan dengan adanya usia siklis sebagai penanda, kita semakin mudah mempetakan secara ideal, pada usia berapa seseorang matang secara fisik (organ reproduksi) dan secara emosional siap untuk menjalani sebuah pernikahan. Hal-hal ini tidak saja membawa manfaat pada pernikahan itu sendiri, namun juga membawa manfaat pada sisi kesehatan, baik kesehatan pasangan maupun anak yang dilahirkan kelak. Denagn fisik pada masa puncak, akan menghasilkan anak-anak yang sehat, sedang kematangan emosional akan menjamin terpenuhinya kebutuhan anak akan kasih-sayang dan pendidikan yang lebih baik dirumah.

Oleh karenanya, saya rasa ukuran yang ada (usia sikliis) seharusnya juga dijadikan patokan menyangkut hal ini, walaupun bagi umat Muslim ada contoh yang tadi saya sebut diatas, namun sekali lagi konteks jaman sudah berbeda. Dan ini berarti masalah fisik dan emosional kan mengalami pengalaman yang berbeda pula.

Pagi Ini

Pagi Ini

Selarik cahaya menikam gulita
Merobek malam, melahirkan pagi
Mengalunkan komposisi alam
Bertutur lembut tentang kehidupan

Selayang kejap dirimu melintas
Menghadirkan khayal dalam kenyataan pagi
Menurunkan kelambu mimpi
Memburamkan kenyataan yang tersaji

Selirik matamu membekukanku
Mematri tatapanku pada seutas senyum
Yang kau lempar lugu dari sudut tawa
Seakan menelanjangi isi hatiku

Tak habis kuikuti kemana pergimu
Kakimu yang mengayuh cepat melaju
Tinggalkan seutas penanda dalam tanya
Kau bubuhkan aroma pada lambatnya waktuku


23 Juni 2009, 08:11

Tak Usai

Tak Usai


Malamku datang sendiri
Sendu nampak jelas di wajahmu
Matamu layu seakan rindu
Mengenang langkah yang tertinggal olehmu

Dingin datang bergandengan
Mendekap erat lenganmu yang buram
Tersembunyi uraian rambutmu
Yang melata jalang

Kau memintaku menceritakan lagi
Tentang mereka yang pergi dan kembali
Sementara pagi mulai pulang menuju ufuk
Memangkas untaian waktumu untuk menyimakku

Kau ingin mendengar lagi cerita kemarin
Yang selalu tak usai kau cerna
Karena pagi selalu saja pulang kembali
Dan tak pernah lupa mengusirmu jauh pergi

Jadi untuk keseribu kali kuulang
Cerita untukmu yang tak lagi baru
Lalu kukecup keningmu
Dan kutuliskan puisi tentang langit yang membiru


23 Juni 2009, 00:09


Neoliberalisme, Bebas-Aktif, Kemandirian

Terkait isu penganut Neoliberalisme cawapres Boediono, ada hal-hal yang harus diperhatikan.

Sebenarnya oke-oke saja kita mau pakai sitem ekonomi yang mana, toh tidak ada yang sempurna. Hanya yang perlu digaris bawahi adalah, sistem ekonomi tersebut harus mampu menciptakan "kemandirian" baik sebagai bangsa maupun negara.

Kecurigaan intervensi asing terhadapa pemerintah selama, sah-sah saja. Toh, ini bisa kita lihat dari betapa banyaknya perusahaan asing yang beroperasi di sektor-sektor utama, semisal energi, telekomunikasi, pangan dan teknologi.

Memprihatinkan melihat bagaimana, hampir semua produk yang beredar (terutama terkait teknologi) merupakan produk imor, atau bila diproduksi di tanah air, perusahaan tersebut merupakan cabang dari perusahaan luar negeri.

Kapan kita akan memiliki, misalnya, handphone, sepeda motor, atau pun mobil buatan Indonesia. Saya rasa, tidak ada slahnya saya mempertanyakan hal ini. Toh sudah sekian lama kita merdeka, kebanyakan barang kebutuhan kita masih impor. Bahkan kedelai untuk bahan baku tempe, makanan tradisional kita, harus mengimpor dari AS, sungguh ironis.

Bila ada barang buatan Indonesia, tidak jarang hanya dibuatnya saja di Indonesia, namun perusahaan pembuatnya adalah cabang perusahaan asing. Jadi banyak perusahaan dari negara maju(kaya) berinvestasi di Indonesia karena gaji buruh yang rendah, kebijakan pemerintah akan amdal kurang, dan sekaligus bisa menajdi pasar karena jumlah penduduk yang besar.

Sebenarnya tidak mengapa menjadi pasar, asal barang-barang yang dipasarkan memang produk asli Indonesia. Lihat China, yang secara resmi masih merupakan negara komunis (walau sekarang cenderung Sosialis) memenuhi kebutuhan dalam negeri, sebelum akhirnya terdapat produksi yang berlebih untuyk kemudian diekspor, dengan pemasaran ala prinsip kapitalis: "dengan usaha minimal, mendapat untung maksimal". sekarang China sudah menjadi raksasa ekonomi dunia, dan mulai merambah ke bidang lain, olah raga misalnya.

Selanjutnya yang menjadi masalah adalah ketidak jelasan posisi kita dalam percaturan negara-negara dunia. Secara de facto, AS dan Uni Eropa masih merupakan kekuatan utama, namun ada juga blok China-Rusia, dkk yang menjadi "lawan". Kita harus memperjelas posisi kita, sehingga bisa menetapkan kebijakan yang selanjutnya akan diimplementasikan. Lihat negara-negara semisal China dan Rusia yang tdiak mau didikte perekonomiannya oleh AS dan UE (barat), atau negara-negara Amerika Latin yang menerapkan ekonomi sosialis dengan jelas dan bersikap mengambil jarak terhadap AS dan UE. Sebaliknya, kita bisa kita lihat Jepang, yang kebijakannya selalu mengekor AS. Seakan disetir, namun justru Jepang bisa fokus pada masalah perekonomian dan menjadi salah satu negara termaju di dunia.
Jadi, pemerintah harus memperlihatkan secara jelas, kemana kita lebih condong. Jangan selalu mengatakan "politik luar negeri bebas dan aktif" kalau secara de facto kita masih disetir oleh pihak tertentu. Lebih baik nyatakan keberpihakan kita, dan lihat kebijakan seperti apa yang kemudian sesuai untuk kita.

Selama kita mengatakan "bebas dan aktif" alias netral, niscaya tidak ada sekutu bagi kita yang akan selalu sejalan, karena kita dianggap "mencla-mencle" jadi negara lain enggan menolong. Semisal kita menjelaskan keberpihakan kita, keapada blok China-Rusia, semisal, maka mereka akan membantu kita dalam permasalahan-permasalahan yang terjadi. Tengok masalah perbatasan dengan malaysia akhir-akhir ini, saya yakin jika terjadi negosiasi, Inggris tidak akan tinggal diam dan membantu Malaysia sebagai salah satu negara anggota persemakmuran. Sedangkan kita tidak memiliki dukungaan yang pasti, padahal masalah engakuan dari negara lain merupakan hal penting dalam isu ini.

Oleh karenanya pemerintah yang akan datang, siapa pun yang terpilih, harus mengutamakan kemandirian bangsa dan menolak intervensi asing termasuk yang ddibuat dalam kesepakatan-kesepakatan "bawah tangan", sehingga kita bisa menentukan arah masa depan kita sendiri. jangan sampai momentum reformasi justru membawa kita kearah yang salah, dan semakin sulit untuk memeprbaikinya.

Sunday, June 21, 2009

Indonesia Open: Wang Lin, China's Hottest Starlet

Apakah anda menyaksikan partai Final Tunggal Putri Indonesia Open 2009?
Apa yang anda pikirkan tentang partai tersebut sama dengan yang saya pikirkan, mari kita lihat.

Tentang kemenangan mengejutkan Saina Nehwal (India), tidak perlu dibicarakan lagi. Determinasi tinggi, stamina prima, pergerakan yang lincah dan pengamatan serta pertahanan yang hebat mengantar Saina menjadi juara dengan terhormat. Dukungan penonton yang luar biasa selama peruangannya menekuk Wang Lin (China) tidak dilupakannya dan kemudian memberi applause pada penonton yang hadir, sebuah sikap juara.

Kedua finalis sama-sama muda, berbakat dan memiliki prospek karir yang cerah dimasa yang akan datang. Namun saya secara khusus ingin membicarakan tentang Wang Ling, walau dia tidak keluar sebagai pemenang pertandingan. Toh, tentang Saina akan banyak dibicarakan di media massa.

Petama. saya ingin membicarakan postur tubuh. Awalnya saya hanya memperhatikan wajahnya yang cantik, mungkin salah satu pebulutangkis paling cantik, menurut saya, yang pernah saya lihat. Dengan wajah cantiknya saya rasa tidak sulit untuk meraih kepopuleran, dalam bidang apapun faktor wajah yang sedap dipandang selalu menajadi tambahan positif. Lalu saya mengamati postur tubuhnya, dengan tinggi yang semampai dan badan yang cukup berisi memberi kemudahan baginya untuk menerapkan teknik yang didapatnya dari latihan dan dikombinasikan power, khas pemain China. Bola-bola sudut dengan mudah bisa dijangkaunya, smes keras pun tampak enteng saja dilakukannya. Namun demikian, belum cukup untuk mengantarnya menajdi juara kali ini. Penampilan ngotot dan pantang menyerah dari Saina Nehwal menjadi karang terjal yang tak terdaki, hingga akhirnya berujung pada kekalahan Wang dipartai final.

Mental yang belum matang dan pukulan yang masih polos, demikian pendapat Ivana Lie, sebagai komentator pertandingan. Saya rasa, pendapat itu sungguh mengena. Dilihat dari segi teknik dan power Wang jelas berada di atas Saina. Namun mental pantang menyerah akhirnya membuat Saina unggul selangkah pada babak final.

Melihat permainan Wang, menimbulkan kecemasan bagi saya. Karena penampilan, bakat dan potensi yang diperlihatkannya membuat impian menggusur dominasi putri China di dunia bulutangkis semakin sulit diwujudkan. Hal ini semakin terasa sewaktu mengetahui pelatih Wang, yang tak lain adalah Zhang Ning. bayangkan, pada bulan Agustus tahun 2008, Zhang Ning masih menjadi pemain aktif untuk Tim Nasional Bulutangkis China, bahkan merebut medali emas Olimpiade beijing 2008. Dan belum satu tahun sejak mengundurkan diri sebagai pemain, dia sudah menjadi pelatih dan membawa anak asuhnya yang berusia 20 tahun menempati peringkat tiga dunia, dan yang terbaru menjadi finalis Indonesia terbuka. Betapa cepat REGENERASI pemain bulutangkis di China, baik PEMAINnya, maupun PELATIHnya.

Seharusnya melihat gejala yang ada, PBSI dengan segala usaha harus memulai regenerasi baik sektor pemain maupun pelatih. Bayangkan, betapa tinggi pencapaian Rexy mainaky sebagai pelatih baik di Inggris maupun di Malaysia, ini tentu membanggakan namun kenapa tidak dia ditunjuk sebagai Pelatih Kepala di PBSI? Cukup mengherankan bagi saya. Jangankan memanggil pulang Rexy, malahan Hendrawan pun menyusul melatih di Malaysia, walau menjadi pelatih profesional. Bila alasannya adalah untuk mendapat penghasilan yang lebih baik,a pakah PBSI sebegitu tidak mampunya membayar pelatih? Lalu untuk apa ada organisasi PBSI itu sendiri, seahrusnya SDM yang ada (pengurus) mampu menjual bulutangkis untuk mendapatkan dana dari sponsorship. Seharusnya juga, mampu mengelola kompetisi dalam negeri Bulutangkis dengan teratur dan profesional, sehingga akan tercipta wahana menguji kemampuan bagi pebulutangkis Indonesia. Bukankah bulutangkis merupakan olahraga populer selain sepakbola di Indonesia? Jangan sampai malah ikut gagal berprestasi seperti sepakbola kita.

Khusus di tunggal putri, perlu penanganan segera. Sejak kepergian Mia Audina yang merupakan penerus Susy Susanti, kita belum pernah memiliki andalan dalam level yang sama dengan kedua pemain tadi. Kita tidak bisa menyalahkan Susy yang banting setir menjadi pengusaha, namun pindahnya Mia sebelum sempat menurunkan ilmunya pada para junior patut disesalkan. Namun yang lalu biarklah berlalu, lebih baik segera cari pintu keluar permasalahan sekarang ini.

Ah, saya lupa ada satu harapan, namanya Maria Febe Kusumastuti, yang ironsinya bukan pemain Pelatnas!

Indonesia Open: Nasionalisme dan Rivalitas

Kebetulan tadi sore tidak ada kegiatan, jadi iseng-iseng nonton TV. Ternyata sedang berlangsung final kejuaraan bulutangkis Indonesia Open (Indonesia Super Series) 2009 yang disiarkan salah satu stasiun televisis swasta. Pertandingan pertama yang saya lihat dari awal adalah babak final tunggal putri antara Wang Lin (China) melawan Saina Nehwal (India).

Pertandingan berjalan alot, hingga akhirnya selesai dalam tiga set. Kejutan terjadi, karena Saina yang kurang diunggulkan akhirnya keluar sebagai juara, karena mampu bangkit pada set kedua dan ketiga, setelah kalah pada set pembuka. Pertandingan menurut saya berjalan alot, dan akhirnya yang menentukan adalah kengototan untuk menang dan mental juara yang sekeras baja.

Komentator di televisi, Ivana Lie, menyebut menurutnya pertandingan kurang menarik karena angka yang tercipta kebanyakan karena kesalahan pemain lawan. Memang benar pendapatnya, namun dari sisi pandang berbeda hal itu menunjukkan bahwa kedua pemain berada pada level kemampuan yang (hampir) setara, sehingga harus menunggu kesalahan lawan baru biasa tercipta angka. Seandainya lawan mereka adalah tunggal putri dari Indonesia, mungkin akan banyak angka yang tercipta dengan bersih dan kekalahan menjadi berada dipihak kita.

Saya tidak sedang bersikap pesimis, namun ingin menyoroti masalah mental dan keinginan untuk menang. Hal ini melintas dibenak saya ketika melihat betapa keras perjuangan Saina yang kalah dari segi postur tubuh dan power mampu menutupi kekurangannya itu dengan foorwork dan pergerakan tubuh yang lincah untuk mengejar kemanapun bola diarahkan Wang Lin, sehingga pada akhirnya Wang Lin sendiri yang mati langkah karena tidak menduga bolanya bisa dikembalikan oleh Saina.

Nah untuk mampu bergerak lincah dan melakukan foorwork yang baik sepanjang pertandingan dengan konsisten, selain diperlukan staina yang prima juga dibutuhkan ketangguhan mental dan determiansi tinggi. Sehingga tidak down hanya karena kecolongan satu atau dua angka, dan fokus untuk mengejar dan meemnangkan pertandingan. Ironisnya, pelatih kepala Tim India adalah Atik Jauhari yang berasal dari Indonesia. Nah, pemain-pemain Indonesia betulnya tidak kalah secara teknik, namun memang staimina power dan yang terpenting mental harus dibenahi. Ketidak stabilan penampilan pemain-pemain Indonesia lebih dikarenakan, menurut saya, masalah mental ini. Kengototan kadang terlihat kadang tidak, sehingga prestasi kurang stabil. Bagaimana caranya supanya tampil ngotot setiap saat, itulah yang harus dicarai kuncinya.

Hal menarik yang mencuri perhatian adalah ramainya dukungan dari penonton Indonesia kepada Saina, padahal dia bukan wakil Indonesia. Ini lebih diakarenakan lawannya, Wang Lin, yang berasal dari China merepresentasikan kekuatan rival Indonesia di dunia bulutangkis sejak lama. Menarik sekali, karena walau sedih dengan tidak adanya tunggal putri Indonesia yang bermain di Final, penonton tetap bisa menyalurkan antusismenya dan tetap memberikan atmosfer yang luarbiasa sepanjang pertandingan.

Kejutan dari penonton terjadi lagi sewaktu partai ganda putri antara pasangan China dan Malaysia digelar. Pendukung Indonesia yang biasanya anti mendukung pemain dari China tiba-tiba berubah perangai dan bersorak-sorai meneriakkan dukungan pada pasangan China. Nampaknya efek memburuknya hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia menjadi pemicu hal ini, bahkan ditengah pertandingan tidak lupa teriakan nama Manohara, juga diselipkan sebagai bentuk intimidasi pada pemain Malaysia. Namun tidak seperti partai tunggal putri, kali in idukungan penonton tidak berhasil membawa keberuntungan bagi pasangan China dan pasangan Malaysia akhirnya menjadi juara Indonesia Open 2009.

Rupanya, rivalitas dalam olahraga bisa dilupakan sejenak bila sudah menyangkut harga diri bangsa dan nasionalisme. Perasaan tidak terima terhadap hubungan yang kurang baik dan tindakan oknum dan pemerintah Malaysia yang kruang meyenangkan akhir-akhir ini menjadi pemicu intimidasi mental oleh penonton pada pemain-pemain asal Negeri Jiran, bahkan sampai membuta penonton rela untuk mendukung pemain China yang merupakan rival nomor satu dalam dunia bulutangkis.Luarbiasa!!

Nah, mengingat partai selanjutnya dalah tunggal putra antara Taufik Hidayat (Indonesia) melawan Lee Chong Wei (Malaysia), saya tidak sabar menunggu bagaimana dahsyatya dukungan penonton pada Taufik jadinya nanti. Sayang, sebelum pertandingan dimulai tukang pijat yang dibooking oleh keluarga sudah datang, dan tiba giliran saya untuk dipijat...Hmmm enak juga pijatannya, tapi sayang setelah selesai pijat saya mendapati Taufik yang dikalahkan oleh Lee. Sedih!!

Saturday, June 13, 2009

Menjelang Pemilu

Akhir-akhir ini sedang marak janji-janji kampanye para capres-cawapres menjelang pemilu bulan Juli yang akan datang. Semuanya dengan prioritas masing-masing, dan dengan agenda yang berlainan. Tentu saja semua boleh saja meng-klaim sebagai yang terpanats, begitu pula kita sebagai pemilih boleh saja memilih sesuka kita, siapapun yang kita anggap pantas diantara ketiga pasangan calon.
Nah sebelum memilih, saya ingin mengajak kita melihat lagi kondisi masyarakat kita beberapa tahun terakhir, katakanlah sejak 2004. Banyak hal yang sudah terjadi, dimulai banyaknya bencana alam. Mulai tsunami Aceh, gempa Jogja, lumpur Lapindo dan banjir tahunan di Jakarta. BBM naik tiga kali dan turun tiga kali (hehehe kaya kampanye pak SBY aja), kurs dollar AS terhadap rupiah yang naik tinggi, kelaparan dan gizi buruk. Ada juga hal-hal positif semisal kinerja KPK yang membaik (walau masih bisa lebih baik lagi), emas di olimpiade fisika dll, emas di bulutangkis Beijing 2008, UU Olahraga yang selesai dibentuk, swasembada beras (meski anehnya masih ada yang kelaparan).
Terserah penilaian masing-masing, pemerintah dianggap sukses atau tidak menjalankan pekerjaannya. Saya ingin memberi penilaian saya sendiri. Secara pribadi saya lebih memilih menilai dari sudut pandang selain hal-hal yang saya sebut diatas, mari kita lihat hal-hal yang sebetulnya mudah diamati dan bisa menjadi basis penilaian kita.
Pertama saya ingin menyoroti maraknya tren video porno buatan dalam negeri (tanpa copyright pula) yang saya yakin para pengguna internet tahu betapa luas peredarannya. Hal ini (video) porno bukan lagi merupakan barang mewah (baca:sulit didapat) dan mudah diakses bahkan oleh tingkatan usia yang belum saatnya mengkonsumsi hal tersebut. Entah memang jumlah video porno meningkat atau dulu tidak terekspos, saya rasa maraknya barang yang satu ini merupakan gambaran ironi dinegeri ini. Video menunjukkan penggunaan teknologi yang semakin memasyarakat dan semakin mudah terakses oleh warga dari berbagai lapisan. Sayangnya kalau kita perhatikan, piranti yang digunakan untuk membuat video merupakan produk-produk asing, dengan kata lain kita hanya menajdi konsumen. Ini diperparah dengan bagaimana begitu mudahnya warga kita terpengaruh sehingga menjadi konsumtif. Kita negara dunia ketiga yang paling hobi mengikuti mode gadget terutama telepon seluler, hampir setiap ada produk baru pasti dinegara kita mendapat kesempatan awal mencicipinya, ironis karena sementara orang dengan mudah membeli telepon seluler berharga jutaan, sebagian warga yang lain masih kesulitan untuk bertahan hidup, apalagi mengakses kesehatan dan pendidikan.
Kemudian masalah kesehatan juga menjadi sorotan, mulai dari kecurigaan sampel virus yang diambil oleh pihak asing, dugaan mal praktik (lagi hot saat ini) dibeberapa rumah sakit, kasus flu burung dan sulitnya akses kesehatan bagi warga miskin, karena harga yang terlampau mahal. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap masalah ini dan mengusahakan pelayanan kesehatan gratis, bukan saja untuk warga tidak mampu tetapi bagi seluruh warga. Dengan kata lain sudah saatnya sistem jaminan sosial diberlakukan. Pernahkaha anda menonton film "SICKO" buatan sutradara Michael Moore tentang asuransi kesehatan di AS dan Eropa? Disitu kita bisa melihat bahwa sistem AS lebih dekat dengan kita, ini bisa kita lihat dari maraknya asuransi kesehatan dan sulitnya klaim asuransi tersebut, serta pelayanan pihak rumah sakit yang pasti selalu menanyakan "siapa pihak penjamin biaya perawatan", sedangkan di Eropa (Inggris dan Perancis) biaya kesehatan ditanggung pemerintah. Di Inggris bahkan harga semua obat sama, baik untuk jenis berlainan, maupun untuk jumlah berapapun. Bila anda dirawat dirumah sakit, negara membayar biaya alias gratis karena anda sudah membayar pajak. Untuk mereka yang pergi kerumah sakit sendiri karena tidak terjagkau ambulans, ada biaya transport pengganti dari pihak RS. Di Prancis, seorang pekerja dari AS jatuh sakit dan dirawat, gratis. Setelah itu dia mengambil cuti pemulihan. Dengan surat keterangan dari dokter, perusahaan tempatnya bekerja membayar 65% gajinya selama cuti......dan negara membayar 35% sisanya....... Bahkan di Kuba, negara komunisnya Fidel Castro, ada apotek ditiap blok dan ada RS di tiap distrik dan tentunya biaya rawat di RS gratis. Bahkan harga obat pernafasan yang di AS sebotol US$ 120, di Kuba hanya beberapa puluh sen......
Yang ketiga adalah tentang pendidikan. Walau anggaran pendidikan sudah 20%, tapi sitem pendidikan masih amburadul. Kurikulum yang tidak jelas dan membebani siswa, tidak praksis alias lebih teoritis, biaya pendidikan tinggi yang mahal, harga buku yang kurang terjangkau (buku pelajaran perlu subsidi lebih besar), perpustakaan yang tidak memadai, serta gaji guru yang rendah. Seharusnya pendidikan merupakan basis pembangunan, karena hanya diwilayah ilmu semua orang harus memulai dari nol, sehingga seharusnya diberikan kesempatan yang sama besar. Pendidikan seharusnya membuka cakrawala warga negara, meningkatkan harkat hidup serta kesadaran akan hak dan kewajiban.
Niali moral, etika dan estetika berawal diranah pendidikan ini. Moral yang baik seharunya mengantar pada perilaku yang lebih manusiawi. Namun mari kita lihat, bahkan untuk urusan membuang sampah dan antri pun kita masih amburadul. Jangan heran karenanya melihat mahasiswa tawuran, aparat yang brutal dan kriminal yang makin sadis, selama sektor pendidikan tidak dibenahi karena ini berarti menutupi kesadaran masyarakat.
Etika membawa kita kembali kemasalah video porno tadi, oke-lah masalah ranjang dkk itu adalah wilayah privat, namun saat diekspos keruang publik lain urusan, karena dalam ruang publik berlaku nilai-nilai yang berbeda dan oleh karenanya saling membatasi. Etika tentang aturan saling membatasi ini juga seharusnya mencegah pemaksaan nilai tertentu yang ingin dipasakan oleh sementara pihak yang merasa paling benar. Etika juga harus kembali dipertanyakan sehubungan dengan tanyangan televisi. Sedikit sekali saya rasa tayangan televisi yang bisa dibilang bertanggung jawab. Setiap hari sinetron dengan kualitas rendah dan tema tidak mendidik, setiap jam ada variety show yang acaranya kurang pas jam tayangnya. Sulit mendapatkan sajian acara televisi untuk anak-anak yang sesuai dengan usianya, sebaliknya begitu mudah mendapatkan acara gosip dan tayangan berita kriminal disiang hari.
Estetika menjadi hal terakhir yang dirusak. Nilai budaya global, masuk tanpa terfilter karena stakeholders yang ada enggan memfilter. Sementara karena kualitas pendidikan yang masih kurang, sulit mengharapkan filter dari kesadaran masyarakat sendiri. Jangankan penetrasi budaya global dan konsumerisme, antar budaya lokal pun sudah mulai saling bunuh. Bagaimana rasanya anda menedengar orang berbicara dengan logat jakarta (gue (ditulisnya sekarang "gw"), lo,dsb) di hampir semua tempat. Saya tidak berkerberatan bila harus ber-lo gw di jakarta, karena memang sudah seharusnya dimana langit dipijak-disitu bumi dijunjung. Tapi saya tidak habis pikir, ketika di Jogja saya disapa oleh teman yang sama-sama dari Magelang dengan. "Mas, gimane kabar lo?"...AAAAARGGHHHHHHH!!!!!!saya salut dengan teman-teman saya di Jogja yang berasal dari Jakarta yang malah ber-asu celeng, walau itu bentuk makian......
Dari pengamatan saya seperti diatas, satu kesimpulan yang bisa saya ambil. Bahwa pemerintah telah gagal menciptakan ketahanan budaya dalam masyarakat. Memang era saat ini bukan lagi era otoritarianisme dan negara tidak seperti dahulu lagi. Tapi pemerintah adalah pembuat regulasi yang seharusnya membuat dan menjaga regulasi tersebut sehingga akan tercipta tatanan yang baik dalam masyarakat, atau dengan kata lain pemerintah seharusnya melakukan suatu "Rekayasa Sosial" dalam artian positif. Peran media sebagai sarana sosialisasi seharusnya dimanfaatkan, jangan malah menjadi senjata makan tuan. Sudah saatnya pula pendidikan dan kesehatan dibebas biayakan setidaknya untuk RS dan sekolah serta perguruan tinggi negeri, sehingga konsentrasi warga bisa dialihkan ke hal lain selain memenuhi kedua hajat hidup tadi. Lagi pula dengan dibebas biayakannya kedua hal tadi, ada penghasilan yang bisa disisihkan dalam tiap keluarga, sehingga bila ada keperluan lain tidak perlu korupsi. Begitu pula saat ada anggota keluarga yang sakit parah, tidak perlu tilep sana-sini.

Thursday, June 11, 2009

Kupanjatkan Doa PadaMu

Kupanjatkan Doa PadaMu


Kukupas lelah yang menggelayut manja
Kuhela nafas menyegarkan dada
Kuhentikan langkah sejenak disini
Di ambang gerbang penanda

Kutengok hamparan pasir dibelakang
Melukiskan waktu yang terbuang
Mendampingi kesempatan yang kusia-siakan
Terjalin indah mengalunkan
Nada penyelasan

Aroma lapuk mengelilingi suasana
Kering terasa ditenggorokanku yang dahaga
Daki di dahi menghitam menjelaga
Lelah dikaki makin menyakiti
Ditelinga mendengung suara makian bertubi-tubi

Sudah sekian lama kumelangkah
Perjalanan ini yang terpanjang
Bukannya aku bosan, hanya waktu semakin menekan
Kewajiban terabaikan dan tuntutan semakin menyesakkan
Ingin menyuarakan kebebasan
Namun terlalu banyak kuberhutang

Aku mengutuki hatiku yang lalai
Aku menyumpahi otakku yang bodoh
Aku mengumpat pada hati yang terlena

Kuperiksa lagi sisa bekal yang ada
Kulihat lagi sisa hari ini
Kulihat samar-samar ujung perjalanan
Namun petaka atau bahagia disana, entah
Yang kutahu aku harus mewujudkan sendiri
Sebaris daftar impian
Sederat catatan harapan


Kupanjatkan doa padaMu
Jadikanlah manfaat atas sisa perjalananku...

6 Juni 2009, 02:45

Kembali

Kembali


Saat makin jauh langkahku
Saat semakin mengalir peluhku
Begitu pula berat langkahku
Semakin jauh dari nama-Mu

Saat arah semakin tak tentu
Saat waktu semakin cepat berlalu
Semakin kabur pandangan mataku
Semakin menjauh dari ayat-Mu

Saat tenggorokanku mulai dahaga
Dan kureguk arak dunia
Semakin terhanyut diriku
Semakin hilang kesadaranku

Dan saat semakin ku ragu
Kemanakah langkahku menuju
Kucoba lagi tuk kembali
Dari awal, ikuti petunjuk-Mu
Meski belum mengerti
Belum sepenuh hati


25 Agustus 2004

Sunday, January 18, 2009

Ruang Kosong

Ruang Kosong

Malam menggantung mengekang waktu
Endapkan lelapku ditengah lelahku
Detak jarum jam terus memacu
Seakan memecah heningnya sunyi

Anganku terbang mencari ruang
Tuk coba tuangkan imajiku
Namun entah
Hanya ruang kosong
Terhampar menambah penatnya waktu

Mengapa harus ada siang
Jika sang malam pun berang
Membakar jiwa-jiwa yang hilang
Sekelumit kenangan timbul tenggelam
Melintasi wajah-wajah yang asing
Yang tak pernah terlelap pun sekejap

Meski hanya menambah murka
Entah apa, tak bisa kulupakan


rewritten:13012008

Lembaran Baru

Lembaran Baru

Kukuburkan sluruh cintaku yang tlah lalu
Tak kutabur bunga diatasnya
Tak kusiram air ditanahnya
Tak kutanam batang digunduknya

Kubuang jauh kenangan pahitnya
Kusimpan erat kenangan manisnya
Kurayakan bebasnya jiwa dari derita
Dengan pahitnya arak dunia
Sembari kuharap tak pernah lagi kan mencinta

Namun diantara tetamu
Yang datang menyambangi hatiku
Nampak dirimu, serasa baru bagiku
Walau kutahu, tlah lama ku mengenalmu

Tanpa terasa kusemai lagi benih cintaku
Kusiangi lagi lapang jiwaku
kubajak lagi kerasnya egoku

Semua demi dirimu
Semua karena dirimu

Dan kuharap tak perlu lagi kan kukuburkan cintaku
Karena kuyakin kau dan aku adalah satu



rewritten: 13012008