Akhir-akhir ini sedang marak janji-janji kampanye para capres-cawapres menjelang pemilu bulan Juli yang akan datang. Semuanya dengan prioritas masing-masing, dan dengan agenda yang berlainan. Tentu saja semua boleh saja meng-klaim sebagai yang terpanats, begitu pula kita sebagai pemilih boleh saja memilih sesuka kita, siapapun yang kita anggap pantas diantara ketiga pasangan calon.
Nah sebelum memilih, saya ingin mengajak kita melihat lagi kondisi masyarakat kita beberapa tahun terakhir, katakanlah sejak 2004. Banyak hal yang sudah terjadi, dimulai banyaknya bencana alam. Mulai tsunami Aceh, gempa Jogja, lumpur Lapindo dan banjir tahunan di Jakarta. BBM naik tiga kali dan turun tiga kali (hehehe kaya kampanye pak SBY aja), kurs dollar AS terhadap rupiah yang naik tinggi, kelaparan dan gizi buruk. Ada juga hal-hal positif semisal kinerja KPK yang membaik (walau masih bisa lebih baik lagi), emas di olimpiade fisika dll, emas di bulutangkis Beijing 2008, UU Olahraga yang selesai dibentuk, swasembada beras (meski anehnya masih ada yang kelaparan).
Terserah penilaian masing-masing, pemerintah dianggap sukses atau tidak menjalankan pekerjaannya. Saya ingin memberi penilaian saya sendiri. Secara pribadi saya lebih memilih menilai dari sudut pandang selain hal-hal yang saya sebut diatas, mari kita lihat hal-hal yang sebetulnya mudah diamati dan bisa menjadi basis penilaian kita.
Pertama saya ingin menyoroti maraknya tren video porno buatan dalam negeri (tanpa copyright pula) yang saya yakin para pengguna internet tahu betapa luas peredarannya. Hal ini (video) porno bukan lagi merupakan barang mewah (baca:sulit didapat) dan mudah diakses bahkan oleh tingkatan usia yang belum saatnya mengkonsumsi hal tersebut. Entah memang jumlah video porno meningkat atau dulu tidak terekspos, saya rasa maraknya barang yang satu ini merupakan gambaran ironi dinegeri ini. Video menunjukkan penggunaan teknologi yang semakin memasyarakat dan semakin mudah terakses oleh warga dari berbagai lapisan. Sayangnya kalau kita perhatikan, piranti yang digunakan untuk membuat video merupakan produk-produk asing, dengan kata lain kita hanya menajdi konsumen. Ini diperparah dengan bagaimana begitu mudahnya warga kita terpengaruh sehingga menjadi konsumtif. Kita negara dunia ketiga yang paling hobi mengikuti mode gadget terutama telepon seluler, hampir setiap ada produk baru pasti dinegara kita mendapat kesempatan awal mencicipinya, ironis karena sementara orang dengan mudah membeli telepon seluler berharga jutaan, sebagian warga yang lain masih kesulitan untuk bertahan hidup, apalagi mengakses kesehatan dan pendidikan.
Kemudian masalah kesehatan juga menjadi sorotan, mulai dari kecurigaan sampel virus yang diambil oleh pihak asing, dugaan mal praktik (lagi hot saat ini) dibeberapa rumah sakit, kasus flu burung dan sulitnya akses kesehatan bagi warga miskin, karena harga yang terlampau mahal. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap masalah ini dan mengusahakan pelayanan kesehatan gratis, bukan saja untuk warga tidak mampu tetapi bagi seluruh warga. Dengan kata lain sudah saatnya sistem jaminan sosial diberlakukan. Pernahkaha anda menonton film "SICKO" buatan sutradara Michael Moore tentang asuransi kesehatan di AS dan Eropa? Disitu kita bisa melihat bahwa sistem AS lebih dekat dengan kita, ini bisa kita lihat dari maraknya asuransi kesehatan dan sulitnya klaim asuransi tersebut, serta pelayanan pihak rumah sakit yang pasti selalu menanyakan "siapa pihak penjamin biaya perawatan", sedangkan di Eropa (Inggris dan Perancis) biaya kesehatan ditanggung pemerintah. Di Inggris bahkan harga semua obat sama, baik untuk jenis berlainan, maupun untuk jumlah berapapun. Bila anda dirawat dirumah sakit, negara membayar biaya alias gratis karena anda sudah membayar pajak. Untuk mereka yang pergi kerumah sakit sendiri karena tidak terjagkau ambulans, ada biaya transport pengganti dari pihak RS. Di Prancis, seorang pekerja dari AS jatuh sakit dan dirawat, gratis. Setelah itu dia mengambil cuti pemulihan. Dengan surat keterangan dari dokter, perusahaan tempatnya bekerja membayar 65% gajinya selama cuti......dan negara membayar 35% sisanya....... Bahkan di Kuba, negara komunisnya Fidel Castro, ada apotek ditiap blok dan ada RS di tiap distrik dan tentunya biaya rawat di RS gratis. Bahkan harga obat pernafasan yang di AS sebotol US$ 120, di Kuba hanya beberapa puluh sen......
Yang ketiga adalah tentang pendidikan. Walau anggaran pendidikan sudah 20%, tapi sitem pendidikan masih amburadul. Kurikulum yang tidak jelas dan membebani siswa, tidak praksis alias lebih teoritis, biaya pendidikan tinggi yang mahal, harga buku yang kurang terjangkau (buku pelajaran perlu subsidi lebih besar), perpustakaan yang tidak memadai, serta gaji guru yang rendah. Seharusnya pendidikan merupakan basis pembangunan, karena hanya diwilayah ilmu semua orang harus memulai dari nol, sehingga seharusnya diberikan kesempatan yang sama besar. Pendidikan seharusnya membuka cakrawala warga negara, meningkatkan harkat hidup serta kesadaran akan hak dan kewajiban.
Niali moral, etika dan estetika berawal diranah pendidikan ini. Moral yang baik seharunya mengantar pada perilaku yang lebih manusiawi. Namun mari kita lihat, bahkan untuk urusan membuang sampah dan antri pun kita masih amburadul. Jangan heran karenanya melihat mahasiswa tawuran, aparat yang brutal dan kriminal yang makin sadis, selama sektor pendidikan tidak dibenahi karena ini berarti menutupi kesadaran masyarakat.
Etika membawa kita kembali kemasalah video porno tadi, oke-lah masalah ranjang dkk itu adalah wilayah privat, namun saat diekspos keruang publik lain urusan, karena dalam ruang publik berlaku nilai-nilai yang berbeda dan oleh karenanya saling membatasi. Etika tentang aturan saling membatasi ini juga seharusnya mencegah pemaksaan nilai tertentu yang ingin dipasakan oleh sementara pihak yang merasa paling benar. Etika juga harus kembali dipertanyakan sehubungan dengan tanyangan televisi. Sedikit sekali saya rasa tayangan televisi yang bisa dibilang bertanggung jawab. Setiap hari sinetron dengan kualitas rendah dan tema tidak mendidik, setiap jam ada variety show yang acaranya kurang pas jam tayangnya. Sulit mendapatkan sajian acara televisi untuk anak-anak yang sesuai dengan usianya, sebaliknya begitu mudah mendapatkan acara gosip dan tayangan berita kriminal disiang hari.
Estetika menjadi hal terakhir yang dirusak. Nilai budaya global, masuk tanpa terfilter karena stakeholders yang ada enggan memfilter. Sementara karena kualitas pendidikan yang masih kurang, sulit mengharapkan filter dari kesadaran masyarakat sendiri. Jangankan penetrasi budaya global dan konsumerisme, antar budaya lokal pun sudah mulai saling bunuh. Bagaimana rasanya anda menedengar orang berbicara dengan logat jakarta (gue (ditulisnya sekarang "gw"), lo,dsb) di hampir semua tempat. Saya tidak berkerberatan bila harus ber-lo gw di jakarta, karena memang sudah seharusnya dimana langit dipijak-disitu bumi dijunjung. Tapi saya tidak habis pikir, ketika di Jogja saya disapa oleh teman yang sama-sama dari Magelang dengan. "Mas, gimane kabar lo?"...AAAAARGGHHHHHHH!!!!!!saya salut dengan teman-teman saya di Jogja yang berasal dari Jakarta yang malah ber-asu celeng, walau itu bentuk makian......
Dari pengamatan saya seperti diatas, satu kesimpulan yang bisa saya ambil. Bahwa pemerintah telah gagal menciptakan ketahanan budaya dalam masyarakat. Memang era saat ini bukan lagi era otoritarianisme dan negara tidak seperti dahulu lagi. Tapi pemerintah adalah pembuat regulasi yang seharusnya membuat dan menjaga regulasi tersebut sehingga akan tercipta tatanan yang baik dalam masyarakat, atau dengan kata lain pemerintah seharusnya melakukan suatu "Rekayasa Sosial" dalam artian positif. Peran media sebagai sarana sosialisasi seharusnya dimanfaatkan, jangan malah menjadi senjata makan tuan. Sudah saatnya pula pendidikan dan kesehatan dibebas biayakan setidaknya untuk RS dan sekolah serta perguruan tinggi negeri, sehingga konsentrasi warga bisa dialihkan ke hal lain selain memenuhi kedua hajat hidup tadi. Lagi pula dengan dibebas biayakannya kedua hal tadi, ada penghasilan yang bisa disisihkan dalam tiap keluarga, sehingga bila ada keperluan lain tidak perlu korupsi. Begitu pula saat ada anggota keluarga yang sakit parah, tidak perlu tilep sana-sini.