KEMAPANAN
Adakalanya kita merasa iri saat melihat kemapanan orang lain. Kemapanan dalam segala hal, finansial, sikap, kesempatan dan lainnya. Apalagi kemapanan-kemapanan itu membuat mereka terlihat lebih menarik dan lebih percaya diri. Mapan juga menjadi simbol kemandirian, tentu saja ada kemapanan yg berupa warisan (terutama dalam hal finansial) namun bukan jenis kemapanan ini yang kiranya menjadi keinginan kita (walau tidak menolak..hehe).
Saya sendiri sebagai seorang pelajar, mahasiswa tepatnya..semester akhir dan dalam proses menuju semi-kadaluarsa masa studi, tiba-tiba merasa lebih sering memperhatikan, menilai ataupun kadang berharap berada pada posisi seseorang yang lebih mapan. Melihat teman-teman seangkatan yang sudah lebih dahulu mandiri, dalam arti sudah memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan cukup, selalu menimbulkan pertanyaan : “Kapan saya bisa seperti mereka?”
Pertanyaan itu, jujur saja bermuara pada masalah finansial terutama. Dengan penghasilan sendiri, tentu kita memiliki kebebasan penuh dalam membelanjakan dan mengelola keuangan kita, tidak seperti saat ini dimana saya masih bergantung pada uluran tangan orang tua (memang saya pemalas, tidak punya inisiatif mencari pekerjaan sambilan). Bayangan-banyangan memiliki barang-barang yang paling kita dambakan kemudian muncul begitu saja, beli ini, beli itu, makan ini,makan itu. Karena status belum berkeluarga pula pikiran-pikiran seperti ini muncul. Maklum, belum ada tanggungan, masih free... bujangan, kata Rhoma Irama.
Kata bujangan ini juga menjadi memiliki arti tersendiri. Setelah mapan dan terpenuhi hasrat-hasrat ingin memiliki barang bagus dan makanan enak, tentu, pasti, wajib, gak mungkin gak, ada juga hasrat untuk memiliki pasangan. Nah, dalam hal ini pun saya tidak seberuntung mereka-mereka yang sudah laku merk dagangnya. Merk saya masih belum juga laku. Ini masalahnya. Saat berpikir tentang enaknya jadi orang mapan, atau “pria mapan” menurut seorang teman saya, kadang-kadang bertanya juga hati ini : “Apa kalau sudah mapan, lebih gampang dapat pasangan?”. Sorry girls, bukannya saya berpendapat kalian materialistis. Tapi ini tentang realita, pasti para wanita diluar sana lebih memilih para pria dengan posisi lebih mapan, karena jelas lebih mandiri dan (mungkin) lebih siap untuk berhubungan lebih serius. Apalagi di usia semester akhir, artinya akan memasuki pertengahan usia duapuluhan, makanya jangan heran kalau gadis-gadis (yah, meski sekarang artinya jadi ambigu..) lebih memilih pria dengan usia lebih tua..lebih mandiri, mapan, matang, dan ngemong kata orang Jawa.
Namun diatas kedua hal dalam dua paragraf sebelumya, “menjadi mandiri” adalah hal dengan arti paling dalam bagi saya. Saat seseorang sudah mampu mandiri—menurut saya-- saat itulah dia menjadi manusia sepenuhnya. Menjadi mandiri berarti hidup dengan cucuran keringat sendiri, tidak tergantung pemberian orang lain. Artinya, kita hidup dengan uang yang kita dapat dari pekerjaan, pekerjaan artinya melakukan sesuatu yang bisa dihargai, ini artinya kita memberi manfaat pada orang/ pihak lain. Dengan menjadi “bermanfaat” kita benar-benar menjadi manusia. Dan akan jauh lebih baik bila kita bisa memberi peluang pada orang lain untuk turut menjadi “bermanfaat” sehingga lebih banyak orang yang menjadi “manusia”.
Nah, kebalikan dari betapa sering kita melihat kemapanan orang lain dan berkhayal kita menjadi mereka, sangat jarang kita berpikir tentang usaha yang dilakukan mereka untuk mencapai kemapanan itu, tentang kerja keras, tentang disiplin, tentang mengatur waktu, ataupun sekedar tentang kemauan yang harus timbul dari diri sendiri. Bahkan untuk sekedar mengakui kerja keras orang-orang kepada siapa kita melihat kemapanan itu. Malahan, tidak jarang kita didera rasa iri, yang kadang menjadi benci. Padahal gak ada urusannya, mau kita benci atau kita kutuk sekalipun ya mereka akan tetep mapan selama mereka bekerja keras untuk “bermanfaat” dan kita juga tidak akan pernah menjadi mapan, mandiri ataupun bermanfaat dengan hanya iri dan membenci.
Sekarang saat yang tepat, bagi siapapun terutama saya, untuk memulai langkah pertama menuju kemapanan, menjadi orang yang bermanfaat. Memulai lebih cepat berarti kita seakin cepat pula kita menjadi “manusia” seutuhnya.