Sunday, June 21, 2009

Indonesia Open: Wang Lin, China's Hottest Starlet

Apakah anda menyaksikan partai Final Tunggal Putri Indonesia Open 2009?
Apa yang anda pikirkan tentang partai tersebut sama dengan yang saya pikirkan, mari kita lihat.

Tentang kemenangan mengejutkan Saina Nehwal (India), tidak perlu dibicarakan lagi. Determinasi tinggi, stamina prima, pergerakan yang lincah dan pengamatan serta pertahanan yang hebat mengantar Saina menjadi juara dengan terhormat. Dukungan penonton yang luar biasa selama peruangannya menekuk Wang Lin (China) tidak dilupakannya dan kemudian memberi applause pada penonton yang hadir, sebuah sikap juara.

Kedua finalis sama-sama muda, berbakat dan memiliki prospek karir yang cerah dimasa yang akan datang. Namun saya secara khusus ingin membicarakan tentang Wang Ling, walau dia tidak keluar sebagai pemenang pertandingan. Toh, tentang Saina akan banyak dibicarakan di media massa.

Petama. saya ingin membicarakan postur tubuh. Awalnya saya hanya memperhatikan wajahnya yang cantik, mungkin salah satu pebulutangkis paling cantik, menurut saya, yang pernah saya lihat. Dengan wajah cantiknya saya rasa tidak sulit untuk meraih kepopuleran, dalam bidang apapun faktor wajah yang sedap dipandang selalu menajadi tambahan positif. Lalu saya mengamati postur tubuhnya, dengan tinggi yang semampai dan badan yang cukup berisi memberi kemudahan baginya untuk menerapkan teknik yang didapatnya dari latihan dan dikombinasikan power, khas pemain China. Bola-bola sudut dengan mudah bisa dijangkaunya, smes keras pun tampak enteng saja dilakukannya. Namun demikian, belum cukup untuk mengantarnya menajdi juara kali ini. Penampilan ngotot dan pantang menyerah dari Saina Nehwal menjadi karang terjal yang tak terdaki, hingga akhirnya berujung pada kekalahan Wang dipartai final.

Mental yang belum matang dan pukulan yang masih polos, demikian pendapat Ivana Lie, sebagai komentator pertandingan. Saya rasa, pendapat itu sungguh mengena. Dilihat dari segi teknik dan power Wang jelas berada di atas Saina. Namun mental pantang menyerah akhirnya membuat Saina unggul selangkah pada babak final.

Melihat permainan Wang, menimbulkan kecemasan bagi saya. Karena penampilan, bakat dan potensi yang diperlihatkannya membuat impian menggusur dominasi putri China di dunia bulutangkis semakin sulit diwujudkan. Hal ini semakin terasa sewaktu mengetahui pelatih Wang, yang tak lain adalah Zhang Ning. bayangkan, pada bulan Agustus tahun 2008, Zhang Ning masih menjadi pemain aktif untuk Tim Nasional Bulutangkis China, bahkan merebut medali emas Olimpiade beijing 2008. Dan belum satu tahun sejak mengundurkan diri sebagai pemain, dia sudah menjadi pelatih dan membawa anak asuhnya yang berusia 20 tahun menempati peringkat tiga dunia, dan yang terbaru menjadi finalis Indonesia terbuka. Betapa cepat REGENERASI pemain bulutangkis di China, baik PEMAINnya, maupun PELATIHnya.

Seharusnya melihat gejala yang ada, PBSI dengan segala usaha harus memulai regenerasi baik sektor pemain maupun pelatih. Bayangkan, betapa tinggi pencapaian Rexy mainaky sebagai pelatih baik di Inggris maupun di Malaysia, ini tentu membanggakan namun kenapa tidak dia ditunjuk sebagai Pelatih Kepala di PBSI? Cukup mengherankan bagi saya. Jangankan memanggil pulang Rexy, malahan Hendrawan pun menyusul melatih di Malaysia, walau menjadi pelatih profesional. Bila alasannya adalah untuk mendapat penghasilan yang lebih baik,a pakah PBSI sebegitu tidak mampunya membayar pelatih? Lalu untuk apa ada organisasi PBSI itu sendiri, seahrusnya SDM yang ada (pengurus) mampu menjual bulutangkis untuk mendapatkan dana dari sponsorship. Seharusnya juga, mampu mengelola kompetisi dalam negeri Bulutangkis dengan teratur dan profesional, sehingga akan tercipta wahana menguji kemampuan bagi pebulutangkis Indonesia. Bukankah bulutangkis merupakan olahraga populer selain sepakbola di Indonesia? Jangan sampai malah ikut gagal berprestasi seperti sepakbola kita.

Khusus di tunggal putri, perlu penanganan segera. Sejak kepergian Mia Audina yang merupakan penerus Susy Susanti, kita belum pernah memiliki andalan dalam level yang sama dengan kedua pemain tadi. Kita tidak bisa menyalahkan Susy yang banting setir menjadi pengusaha, namun pindahnya Mia sebelum sempat menurunkan ilmunya pada para junior patut disesalkan. Namun yang lalu biarklah berlalu, lebih baik segera cari pintu keluar permasalahan sekarang ini.

Ah, saya lupa ada satu harapan, namanya Maria Febe Kusumastuti, yang ironsinya bukan pemain Pelatnas!

Indonesia Open: Nasionalisme dan Rivalitas

Kebetulan tadi sore tidak ada kegiatan, jadi iseng-iseng nonton TV. Ternyata sedang berlangsung final kejuaraan bulutangkis Indonesia Open (Indonesia Super Series) 2009 yang disiarkan salah satu stasiun televisis swasta. Pertandingan pertama yang saya lihat dari awal adalah babak final tunggal putri antara Wang Lin (China) melawan Saina Nehwal (India).

Pertandingan berjalan alot, hingga akhirnya selesai dalam tiga set. Kejutan terjadi, karena Saina yang kurang diunggulkan akhirnya keluar sebagai juara, karena mampu bangkit pada set kedua dan ketiga, setelah kalah pada set pembuka. Pertandingan menurut saya berjalan alot, dan akhirnya yang menentukan adalah kengototan untuk menang dan mental juara yang sekeras baja.

Komentator di televisi, Ivana Lie, menyebut menurutnya pertandingan kurang menarik karena angka yang tercipta kebanyakan karena kesalahan pemain lawan. Memang benar pendapatnya, namun dari sisi pandang berbeda hal itu menunjukkan bahwa kedua pemain berada pada level kemampuan yang (hampir) setara, sehingga harus menunggu kesalahan lawan baru biasa tercipta angka. Seandainya lawan mereka adalah tunggal putri dari Indonesia, mungkin akan banyak angka yang tercipta dengan bersih dan kekalahan menjadi berada dipihak kita.

Saya tidak sedang bersikap pesimis, namun ingin menyoroti masalah mental dan keinginan untuk menang. Hal ini melintas dibenak saya ketika melihat betapa keras perjuangan Saina yang kalah dari segi postur tubuh dan power mampu menutupi kekurangannya itu dengan foorwork dan pergerakan tubuh yang lincah untuk mengejar kemanapun bola diarahkan Wang Lin, sehingga pada akhirnya Wang Lin sendiri yang mati langkah karena tidak menduga bolanya bisa dikembalikan oleh Saina.

Nah untuk mampu bergerak lincah dan melakukan foorwork yang baik sepanjang pertandingan dengan konsisten, selain diperlukan staina yang prima juga dibutuhkan ketangguhan mental dan determiansi tinggi. Sehingga tidak down hanya karena kecolongan satu atau dua angka, dan fokus untuk mengejar dan meemnangkan pertandingan. Ironisnya, pelatih kepala Tim India adalah Atik Jauhari yang berasal dari Indonesia. Nah, pemain-pemain Indonesia betulnya tidak kalah secara teknik, namun memang staimina power dan yang terpenting mental harus dibenahi. Ketidak stabilan penampilan pemain-pemain Indonesia lebih dikarenakan, menurut saya, masalah mental ini. Kengototan kadang terlihat kadang tidak, sehingga prestasi kurang stabil. Bagaimana caranya supanya tampil ngotot setiap saat, itulah yang harus dicarai kuncinya.

Hal menarik yang mencuri perhatian adalah ramainya dukungan dari penonton Indonesia kepada Saina, padahal dia bukan wakil Indonesia. Ini lebih diakarenakan lawannya, Wang Lin, yang berasal dari China merepresentasikan kekuatan rival Indonesia di dunia bulutangkis sejak lama. Menarik sekali, karena walau sedih dengan tidak adanya tunggal putri Indonesia yang bermain di Final, penonton tetap bisa menyalurkan antusismenya dan tetap memberikan atmosfer yang luarbiasa sepanjang pertandingan.

Kejutan dari penonton terjadi lagi sewaktu partai ganda putri antara pasangan China dan Malaysia digelar. Pendukung Indonesia yang biasanya anti mendukung pemain dari China tiba-tiba berubah perangai dan bersorak-sorai meneriakkan dukungan pada pasangan China. Nampaknya efek memburuknya hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia menjadi pemicu hal ini, bahkan ditengah pertandingan tidak lupa teriakan nama Manohara, juga diselipkan sebagai bentuk intimidasi pada pemain Malaysia. Namun tidak seperti partai tunggal putri, kali in idukungan penonton tidak berhasil membawa keberuntungan bagi pasangan China dan pasangan Malaysia akhirnya menjadi juara Indonesia Open 2009.

Rupanya, rivalitas dalam olahraga bisa dilupakan sejenak bila sudah menyangkut harga diri bangsa dan nasionalisme. Perasaan tidak terima terhadap hubungan yang kurang baik dan tindakan oknum dan pemerintah Malaysia yang kruang meyenangkan akhir-akhir ini menjadi pemicu intimidasi mental oleh penonton pada pemain-pemain asal Negeri Jiran, bahkan sampai membuta penonton rela untuk mendukung pemain China yang merupakan rival nomor satu dalam dunia bulutangkis.Luarbiasa!!

Nah, mengingat partai selanjutnya dalah tunggal putra antara Taufik Hidayat (Indonesia) melawan Lee Chong Wei (Malaysia), saya tidak sabar menunggu bagaimana dahsyatya dukungan penonton pada Taufik jadinya nanti. Sayang, sebelum pertandingan dimulai tukang pijat yang dibooking oleh keluarga sudah datang, dan tiba giliran saya untuk dipijat...Hmmm enak juga pijatannya, tapi sayang setelah selesai pijat saya mendapati Taufik yang dikalahkan oleh Lee. Sedih!!

Saturday, June 13, 2009

Menjelang Pemilu

Akhir-akhir ini sedang marak janji-janji kampanye para capres-cawapres menjelang pemilu bulan Juli yang akan datang. Semuanya dengan prioritas masing-masing, dan dengan agenda yang berlainan. Tentu saja semua boleh saja meng-klaim sebagai yang terpanats, begitu pula kita sebagai pemilih boleh saja memilih sesuka kita, siapapun yang kita anggap pantas diantara ketiga pasangan calon.
Nah sebelum memilih, saya ingin mengajak kita melihat lagi kondisi masyarakat kita beberapa tahun terakhir, katakanlah sejak 2004. Banyak hal yang sudah terjadi, dimulai banyaknya bencana alam. Mulai tsunami Aceh, gempa Jogja, lumpur Lapindo dan banjir tahunan di Jakarta. BBM naik tiga kali dan turun tiga kali (hehehe kaya kampanye pak SBY aja), kurs dollar AS terhadap rupiah yang naik tinggi, kelaparan dan gizi buruk. Ada juga hal-hal positif semisal kinerja KPK yang membaik (walau masih bisa lebih baik lagi), emas di olimpiade fisika dll, emas di bulutangkis Beijing 2008, UU Olahraga yang selesai dibentuk, swasembada beras (meski anehnya masih ada yang kelaparan).
Terserah penilaian masing-masing, pemerintah dianggap sukses atau tidak menjalankan pekerjaannya. Saya ingin memberi penilaian saya sendiri. Secara pribadi saya lebih memilih menilai dari sudut pandang selain hal-hal yang saya sebut diatas, mari kita lihat hal-hal yang sebetulnya mudah diamati dan bisa menjadi basis penilaian kita.
Pertama saya ingin menyoroti maraknya tren video porno buatan dalam negeri (tanpa copyright pula) yang saya yakin para pengguna internet tahu betapa luas peredarannya. Hal ini (video) porno bukan lagi merupakan barang mewah (baca:sulit didapat) dan mudah diakses bahkan oleh tingkatan usia yang belum saatnya mengkonsumsi hal tersebut. Entah memang jumlah video porno meningkat atau dulu tidak terekspos, saya rasa maraknya barang yang satu ini merupakan gambaran ironi dinegeri ini. Video menunjukkan penggunaan teknologi yang semakin memasyarakat dan semakin mudah terakses oleh warga dari berbagai lapisan. Sayangnya kalau kita perhatikan, piranti yang digunakan untuk membuat video merupakan produk-produk asing, dengan kata lain kita hanya menajdi konsumen. Ini diperparah dengan bagaimana begitu mudahnya warga kita terpengaruh sehingga menjadi konsumtif. Kita negara dunia ketiga yang paling hobi mengikuti mode gadget terutama telepon seluler, hampir setiap ada produk baru pasti dinegara kita mendapat kesempatan awal mencicipinya, ironis karena sementara orang dengan mudah membeli telepon seluler berharga jutaan, sebagian warga yang lain masih kesulitan untuk bertahan hidup, apalagi mengakses kesehatan dan pendidikan.
Kemudian masalah kesehatan juga menjadi sorotan, mulai dari kecurigaan sampel virus yang diambil oleh pihak asing, dugaan mal praktik (lagi hot saat ini) dibeberapa rumah sakit, kasus flu burung dan sulitnya akses kesehatan bagi warga miskin, karena harga yang terlampau mahal. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap masalah ini dan mengusahakan pelayanan kesehatan gratis, bukan saja untuk warga tidak mampu tetapi bagi seluruh warga. Dengan kata lain sudah saatnya sistem jaminan sosial diberlakukan. Pernahkaha anda menonton film "SICKO" buatan sutradara Michael Moore tentang asuransi kesehatan di AS dan Eropa? Disitu kita bisa melihat bahwa sistem AS lebih dekat dengan kita, ini bisa kita lihat dari maraknya asuransi kesehatan dan sulitnya klaim asuransi tersebut, serta pelayanan pihak rumah sakit yang pasti selalu menanyakan "siapa pihak penjamin biaya perawatan", sedangkan di Eropa (Inggris dan Perancis) biaya kesehatan ditanggung pemerintah. Di Inggris bahkan harga semua obat sama, baik untuk jenis berlainan, maupun untuk jumlah berapapun. Bila anda dirawat dirumah sakit, negara membayar biaya alias gratis karena anda sudah membayar pajak. Untuk mereka yang pergi kerumah sakit sendiri karena tidak terjagkau ambulans, ada biaya transport pengganti dari pihak RS. Di Prancis, seorang pekerja dari AS jatuh sakit dan dirawat, gratis. Setelah itu dia mengambil cuti pemulihan. Dengan surat keterangan dari dokter, perusahaan tempatnya bekerja membayar 65% gajinya selama cuti......dan negara membayar 35% sisanya....... Bahkan di Kuba, negara komunisnya Fidel Castro, ada apotek ditiap blok dan ada RS di tiap distrik dan tentunya biaya rawat di RS gratis. Bahkan harga obat pernafasan yang di AS sebotol US$ 120, di Kuba hanya beberapa puluh sen......
Yang ketiga adalah tentang pendidikan. Walau anggaran pendidikan sudah 20%, tapi sitem pendidikan masih amburadul. Kurikulum yang tidak jelas dan membebani siswa, tidak praksis alias lebih teoritis, biaya pendidikan tinggi yang mahal, harga buku yang kurang terjangkau (buku pelajaran perlu subsidi lebih besar), perpustakaan yang tidak memadai, serta gaji guru yang rendah. Seharusnya pendidikan merupakan basis pembangunan, karena hanya diwilayah ilmu semua orang harus memulai dari nol, sehingga seharusnya diberikan kesempatan yang sama besar. Pendidikan seharusnya membuka cakrawala warga negara, meningkatkan harkat hidup serta kesadaran akan hak dan kewajiban.
Niali moral, etika dan estetika berawal diranah pendidikan ini. Moral yang baik seharunya mengantar pada perilaku yang lebih manusiawi. Namun mari kita lihat, bahkan untuk urusan membuang sampah dan antri pun kita masih amburadul. Jangan heran karenanya melihat mahasiswa tawuran, aparat yang brutal dan kriminal yang makin sadis, selama sektor pendidikan tidak dibenahi karena ini berarti menutupi kesadaran masyarakat.
Etika membawa kita kembali kemasalah video porno tadi, oke-lah masalah ranjang dkk itu adalah wilayah privat, namun saat diekspos keruang publik lain urusan, karena dalam ruang publik berlaku nilai-nilai yang berbeda dan oleh karenanya saling membatasi. Etika tentang aturan saling membatasi ini juga seharusnya mencegah pemaksaan nilai tertentu yang ingin dipasakan oleh sementara pihak yang merasa paling benar. Etika juga harus kembali dipertanyakan sehubungan dengan tanyangan televisi. Sedikit sekali saya rasa tayangan televisi yang bisa dibilang bertanggung jawab. Setiap hari sinetron dengan kualitas rendah dan tema tidak mendidik, setiap jam ada variety show yang acaranya kurang pas jam tayangnya. Sulit mendapatkan sajian acara televisi untuk anak-anak yang sesuai dengan usianya, sebaliknya begitu mudah mendapatkan acara gosip dan tayangan berita kriminal disiang hari.
Estetika menjadi hal terakhir yang dirusak. Nilai budaya global, masuk tanpa terfilter karena stakeholders yang ada enggan memfilter. Sementara karena kualitas pendidikan yang masih kurang, sulit mengharapkan filter dari kesadaran masyarakat sendiri. Jangankan penetrasi budaya global dan konsumerisme, antar budaya lokal pun sudah mulai saling bunuh. Bagaimana rasanya anda menedengar orang berbicara dengan logat jakarta (gue (ditulisnya sekarang "gw"), lo,dsb) di hampir semua tempat. Saya tidak berkerberatan bila harus ber-lo gw di jakarta, karena memang sudah seharusnya dimana langit dipijak-disitu bumi dijunjung. Tapi saya tidak habis pikir, ketika di Jogja saya disapa oleh teman yang sama-sama dari Magelang dengan. "Mas, gimane kabar lo?"...AAAAARGGHHHHHHH!!!!!!saya salut dengan teman-teman saya di Jogja yang berasal dari Jakarta yang malah ber-asu celeng, walau itu bentuk makian......
Dari pengamatan saya seperti diatas, satu kesimpulan yang bisa saya ambil. Bahwa pemerintah telah gagal menciptakan ketahanan budaya dalam masyarakat. Memang era saat ini bukan lagi era otoritarianisme dan negara tidak seperti dahulu lagi. Tapi pemerintah adalah pembuat regulasi yang seharusnya membuat dan menjaga regulasi tersebut sehingga akan tercipta tatanan yang baik dalam masyarakat, atau dengan kata lain pemerintah seharusnya melakukan suatu "Rekayasa Sosial" dalam artian positif. Peran media sebagai sarana sosialisasi seharusnya dimanfaatkan, jangan malah menjadi senjata makan tuan. Sudah saatnya pula pendidikan dan kesehatan dibebas biayakan setidaknya untuk RS dan sekolah serta perguruan tinggi negeri, sehingga konsentrasi warga bisa dialihkan ke hal lain selain memenuhi kedua hajat hidup tadi. Lagi pula dengan dibebas biayakannya kedua hal tadi, ada penghasilan yang bisa disisihkan dalam tiap keluarga, sehingga bila ada keperluan lain tidak perlu korupsi. Begitu pula saat ada anggota keluarga yang sakit parah, tidak perlu tilep sana-sini.

Thursday, June 11, 2009

Kupanjatkan Doa PadaMu

Kupanjatkan Doa PadaMu


Kukupas lelah yang menggelayut manja
Kuhela nafas menyegarkan dada
Kuhentikan langkah sejenak disini
Di ambang gerbang penanda

Kutengok hamparan pasir dibelakang
Melukiskan waktu yang terbuang
Mendampingi kesempatan yang kusia-siakan
Terjalin indah mengalunkan
Nada penyelasan

Aroma lapuk mengelilingi suasana
Kering terasa ditenggorokanku yang dahaga
Daki di dahi menghitam menjelaga
Lelah dikaki makin menyakiti
Ditelinga mendengung suara makian bertubi-tubi

Sudah sekian lama kumelangkah
Perjalanan ini yang terpanjang
Bukannya aku bosan, hanya waktu semakin menekan
Kewajiban terabaikan dan tuntutan semakin menyesakkan
Ingin menyuarakan kebebasan
Namun terlalu banyak kuberhutang

Aku mengutuki hatiku yang lalai
Aku menyumpahi otakku yang bodoh
Aku mengumpat pada hati yang terlena

Kuperiksa lagi sisa bekal yang ada
Kulihat lagi sisa hari ini
Kulihat samar-samar ujung perjalanan
Namun petaka atau bahagia disana, entah
Yang kutahu aku harus mewujudkan sendiri
Sebaris daftar impian
Sederat catatan harapan


Kupanjatkan doa padaMu
Jadikanlah manfaat atas sisa perjalananku...

6 Juni 2009, 02:45

Kembali

Kembali


Saat makin jauh langkahku
Saat semakin mengalir peluhku
Begitu pula berat langkahku
Semakin jauh dari nama-Mu

Saat arah semakin tak tentu
Saat waktu semakin cepat berlalu
Semakin kabur pandangan mataku
Semakin menjauh dari ayat-Mu

Saat tenggorokanku mulai dahaga
Dan kureguk arak dunia
Semakin terhanyut diriku
Semakin hilang kesadaranku

Dan saat semakin ku ragu
Kemanakah langkahku menuju
Kucoba lagi tuk kembali
Dari awal, ikuti petunjuk-Mu
Meski belum mengerti
Belum sepenuh hati


25 Agustus 2004