Apakah anda menyaksikan partai Final Tunggal Putri Indonesia Open 2009?
Apa yang anda pikirkan tentang partai tersebut sama dengan yang saya pikirkan, mari kita lihat.
Tentang kemenangan mengejutkan Saina Nehwal (India), tidak perlu dibicarakan lagi. Determinasi tinggi, stamina prima, pergerakan yang lincah dan pengamatan serta pertahanan yang hebat mengantar Saina menjadi juara dengan terhormat. Dukungan penonton yang luar biasa selama peruangannya menekuk Wang Lin (China) tidak dilupakannya dan kemudian memberi applause pada penonton yang hadir, sebuah sikap juara.
Kedua finalis sama-sama muda, berbakat dan memiliki prospek karir yang cerah dimasa yang akan datang. Namun saya secara khusus ingin membicarakan tentang Wang Ling, walau dia tidak keluar sebagai pemenang pertandingan. Toh, tentang Saina akan banyak dibicarakan di media massa.
Petama. saya ingin membicarakan postur tubuh. Awalnya saya hanya memperhatikan wajahnya yang cantik, mungkin salah satu pebulutangkis paling cantik, menurut saya, yang pernah saya lihat. Dengan wajah cantiknya saya rasa tidak sulit untuk meraih kepopuleran, dalam bidang apapun faktor wajah yang sedap dipandang selalu menajadi tambahan positif. Lalu saya mengamati postur tubuhnya, dengan tinggi yang semampai dan badan yang cukup berisi memberi kemudahan baginya untuk menerapkan teknik yang didapatnya dari latihan dan dikombinasikan power, khas pemain China. Bola-bola sudut dengan mudah bisa dijangkaunya, smes keras pun tampak enteng saja dilakukannya. Namun demikian, belum cukup untuk mengantarnya menajdi juara kali ini. Penampilan ngotot dan pantang menyerah dari Saina Nehwal menjadi karang terjal yang tak terdaki, hingga akhirnya berujung pada kekalahan Wang dipartai final.
Mental yang belum matang dan pukulan yang masih polos, demikian pendapat Ivana Lie, sebagai komentator pertandingan. Saya rasa, pendapat itu sungguh mengena. Dilihat dari segi teknik dan power Wang jelas berada di atas Saina. Namun mental pantang menyerah akhirnya membuat Saina unggul selangkah pada babak final.
Melihat permainan Wang, menimbulkan kecemasan bagi saya. Karena penampilan, bakat dan potensi yang diperlihatkannya membuat impian menggusur dominasi putri China di dunia bulutangkis semakin sulit diwujudkan. Hal ini semakin terasa sewaktu mengetahui pelatih Wang, yang tak lain adalah Zhang Ning. bayangkan, pada bulan Agustus tahun 2008, Zhang Ning masih menjadi pemain aktif untuk Tim Nasional Bulutangkis China, bahkan merebut medali emas Olimpiade beijing 2008. Dan belum satu tahun sejak mengundurkan diri sebagai pemain, dia sudah menjadi pelatih dan membawa anak asuhnya yang berusia 20 tahun menempati peringkat tiga dunia, dan yang terbaru menjadi finalis Indonesia terbuka. Betapa cepat REGENERASI pemain bulutangkis di China, baik PEMAINnya, maupun PELATIHnya.
Seharusnya melihat gejala yang ada, PBSI dengan segala usaha harus memulai regenerasi baik sektor pemain maupun pelatih. Bayangkan, betapa tinggi pencapaian Rexy mainaky sebagai pelatih baik di Inggris maupun di Malaysia, ini tentu membanggakan namun kenapa tidak dia ditunjuk sebagai Pelatih Kepala di PBSI? Cukup mengherankan bagi saya. Jangankan memanggil pulang Rexy, malahan Hendrawan pun menyusul melatih di Malaysia, walau menjadi pelatih profesional. Bila alasannya adalah untuk mendapat penghasilan yang lebih baik,a pakah PBSI sebegitu tidak mampunya membayar pelatih? Lalu untuk apa ada organisasi PBSI itu sendiri, seahrusnya SDM yang ada (pengurus) mampu menjual bulutangkis untuk mendapatkan dana dari sponsorship. Seharusnya juga, mampu mengelola kompetisi dalam negeri Bulutangkis dengan teratur dan profesional, sehingga akan tercipta wahana menguji kemampuan bagi pebulutangkis Indonesia. Bukankah bulutangkis merupakan olahraga populer selain sepakbola di Indonesia? Jangan sampai malah ikut gagal berprestasi seperti sepakbola kita.
Khusus di tunggal putri, perlu penanganan segera. Sejak kepergian Mia Audina yang merupakan penerus Susy Susanti, kita belum pernah memiliki andalan dalam level yang sama dengan kedua pemain tadi. Kita tidak bisa menyalahkan Susy yang banting setir menjadi pengusaha, namun pindahnya Mia sebelum sempat menurunkan ilmunya pada para junior patut disesalkan. Namun yang lalu biarklah berlalu, lebih baik segera cari pintu keluar permasalahan sekarang ini.
Ah, saya lupa ada satu harapan, namanya Maria Febe Kusumastuti, yang ironsinya bukan pemain Pelatnas!
Apa yang anda pikirkan tentang partai tersebut sama dengan yang saya pikirkan, mari kita lihat.
Tentang kemenangan mengejutkan Saina Nehwal (India), tidak perlu dibicarakan lagi. Determinasi tinggi, stamina prima, pergerakan yang lincah dan pengamatan serta pertahanan yang hebat mengantar Saina menjadi juara dengan terhormat. Dukungan penonton yang luar biasa selama peruangannya menekuk Wang Lin (China) tidak dilupakannya dan kemudian memberi applause pada penonton yang hadir, sebuah sikap juara.
Kedua finalis sama-sama muda, berbakat dan memiliki prospek karir yang cerah dimasa yang akan datang. Namun saya secara khusus ingin membicarakan tentang Wang Ling, walau dia tidak keluar sebagai pemenang pertandingan. Toh, tentang Saina akan banyak dibicarakan di media massa.
Petama. saya ingin membicarakan postur tubuh. Awalnya saya hanya memperhatikan wajahnya yang cantik, mungkin salah satu pebulutangkis paling cantik, menurut saya, yang pernah saya lihat. Dengan wajah cantiknya saya rasa tidak sulit untuk meraih kepopuleran, dalam bidang apapun faktor wajah yang sedap dipandang selalu menajadi tambahan positif. Lalu saya mengamati postur tubuhnya, dengan tinggi yang semampai dan badan yang cukup berisi memberi kemudahan baginya untuk menerapkan teknik yang didapatnya dari latihan dan dikombinasikan power, khas pemain China. Bola-bola sudut dengan mudah bisa dijangkaunya, smes keras pun tampak enteng saja dilakukannya. Namun demikian, belum cukup untuk mengantarnya menajdi juara kali ini. Penampilan ngotot dan pantang menyerah dari Saina Nehwal menjadi karang terjal yang tak terdaki, hingga akhirnya berujung pada kekalahan Wang dipartai final.
Mental yang belum matang dan pukulan yang masih polos, demikian pendapat Ivana Lie, sebagai komentator pertandingan. Saya rasa, pendapat itu sungguh mengena. Dilihat dari segi teknik dan power Wang jelas berada di atas Saina. Namun mental pantang menyerah akhirnya membuat Saina unggul selangkah pada babak final.
Melihat permainan Wang, menimbulkan kecemasan bagi saya. Karena penampilan, bakat dan potensi yang diperlihatkannya membuat impian menggusur dominasi putri China di dunia bulutangkis semakin sulit diwujudkan. Hal ini semakin terasa sewaktu mengetahui pelatih Wang, yang tak lain adalah Zhang Ning. bayangkan, pada bulan Agustus tahun 2008, Zhang Ning masih menjadi pemain aktif untuk Tim Nasional Bulutangkis China, bahkan merebut medali emas Olimpiade beijing 2008. Dan belum satu tahun sejak mengundurkan diri sebagai pemain, dia sudah menjadi pelatih dan membawa anak asuhnya yang berusia 20 tahun menempati peringkat tiga dunia, dan yang terbaru menjadi finalis Indonesia terbuka. Betapa cepat REGENERASI pemain bulutangkis di China, baik PEMAINnya, maupun PELATIHnya.
Seharusnya melihat gejala yang ada, PBSI dengan segala usaha harus memulai regenerasi baik sektor pemain maupun pelatih. Bayangkan, betapa tinggi pencapaian Rexy mainaky sebagai pelatih baik di Inggris maupun di Malaysia, ini tentu membanggakan namun kenapa tidak dia ditunjuk sebagai Pelatih Kepala di PBSI? Cukup mengherankan bagi saya. Jangankan memanggil pulang Rexy, malahan Hendrawan pun menyusul melatih di Malaysia, walau menjadi pelatih profesional. Bila alasannya adalah untuk mendapat penghasilan yang lebih baik,a pakah PBSI sebegitu tidak mampunya membayar pelatih? Lalu untuk apa ada organisasi PBSI itu sendiri, seahrusnya SDM yang ada (pengurus) mampu menjual bulutangkis untuk mendapatkan dana dari sponsorship. Seharusnya juga, mampu mengelola kompetisi dalam negeri Bulutangkis dengan teratur dan profesional, sehingga akan tercipta wahana menguji kemampuan bagi pebulutangkis Indonesia. Bukankah bulutangkis merupakan olahraga populer selain sepakbola di Indonesia? Jangan sampai malah ikut gagal berprestasi seperti sepakbola kita.
Khusus di tunggal putri, perlu penanganan segera. Sejak kepergian Mia Audina yang merupakan penerus Susy Susanti, kita belum pernah memiliki andalan dalam level yang sama dengan kedua pemain tadi. Kita tidak bisa menyalahkan Susy yang banting setir menjadi pengusaha, namun pindahnya Mia sebelum sempat menurunkan ilmunya pada para junior patut disesalkan. Namun yang lalu biarklah berlalu, lebih baik segera cari pintu keluar permasalahan sekarang ini.
Ah, saya lupa ada satu harapan, namanya Maria Febe Kusumastuti, yang ironsinya bukan pemain Pelatnas!