Kebetulan tadi sore tidak ada kegiatan, jadi iseng-iseng nonton TV. Ternyata sedang berlangsung final kejuaraan bulutangkis Indonesia Open (Indonesia Super Series) 2009 yang disiarkan salah satu stasiun televisis swasta. Pertandingan pertama yang saya lihat dari awal adalah babak final tunggal putri antara Wang Lin (China) melawan Saina Nehwal (India).
Pertandingan berjalan alot, hingga akhirnya selesai dalam tiga set. Kejutan terjadi, karena Saina yang kurang diunggulkan akhirnya keluar sebagai juara, karena mampu bangkit pada set kedua dan ketiga, setelah kalah pada set pembuka. Pertandingan menurut saya berjalan alot, dan akhirnya yang menentukan adalah kengototan untuk menang dan mental juara yang sekeras baja.
Komentator di televisi, Ivana Lie, menyebut menurutnya pertandingan kurang menarik karena angka yang tercipta kebanyakan karena kesalahan pemain lawan. Memang benar pendapatnya, namun dari sisi pandang berbeda hal itu menunjukkan bahwa kedua pemain berada pada level kemampuan yang (hampir) setara, sehingga harus menunggu kesalahan lawan baru biasa tercipta angka. Seandainya lawan mereka adalah tunggal putri dari Indonesia, mungkin akan banyak angka yang tercipta dengan bersih dan kekalahan menjadi berada dipihak kita.
Saya tidak sedang bersikap pesimis, namun ingin menyoroti masalah mental dan keinginan untuk menang. Hal ini melintas dibenak saya ketika melihat betapa keras perjuangan Saina yang kalah dari segi postur tubuh dan power mampu menutupi kekurangannya itu dengan foorwork dan pergerakan tubuh yang lincah untuk mengejar kemanapun bola diarahkan Wang Lin, sehingga pada akhirnya Wang Lin sendiri yang mati langkah karena tidak menduga bolanya bisa dikembalikan oleh Saina.
Nah untuk mampu bergerak lincah dan melakukan foorwork yang baik sepanjang pertandingan dengan konsisten, selain diperlukan staina yang prima juga dibutuhkan ketangguhan mental dan determiansi tinggi. Sehingga tidak down hanya karena kecolongan satu atau dua angka, dan fokus untuk mengejar dan meemnangkan pertandingan. Ironisnya, pelatih kepala Tim India adalah Atik Jauhari yang berasal dari Indonesia. Nah, pemain-pemain Indonesia betulnya tidak kalah secara teknik, namun memang staimina power dan yang terpenting mental harus dibenahi. Ketidak stabilan penampilan pemain-pemain Indonesia lebih dikarenakan, menurut saya, masalah mental ini. Kengototan kadang terlihat kadang tidak, sehingga prestasi kurang stabil. Bagaimana caranya supanya tampil ngotot setiap saat, itulah yang harus dicarai kuncinya.
Hal menarik yang mencuri perhatian adalah ramainya dukungan dari penonton Indonesia kepada Saina, padahal dia bukan wakil Indonesia. Ini lebih diakarenakan lawannya, Wang Lin, yang berasal dari China merepresentasikan kekuatan rival Indonesia di dunia bulutangkis sejak lama. Menarik sekali, karena walau sedih dengan tidak adanya tunggal putri Indonesia yang bermain di Final, penonton tetap bisa menyalurkan antusismenya dan tetap memberikan atmosfer yang luarbiasa sepanjang pertandingan.
Kejutan dari penonton terjadi lagi sewaktu partai ganda putri antara pasangan China dan Malaysia digelar. Pendukung Indonesia yang biasanya anti mendukung pemain dari China tiba-tiba berubah perangai dan bersorak-sorai meneriakkan dukungan pada pasangan China. Nampaknya efek memburuknya hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia menjadi pemicu hal ini, bahkan ditengah pertandingan tidak lupa teriakan nama Manohara, juga diselipkan sebagai bentuk intimidasi pada pemain Malaysia. Namun tidak seperti partai tunggal putri, kali in idukungan penonton tidak berhasil membawa keberuntungan bagi pasangan China dan pasangan Malaysia akhirnya menjadi juara Indonesia Open 2009.
Rupanya, rivalitas dalam olahraga bisa dilupakan sejenak bila sudah menyangkut harga diri bangsa dan nasionalisme. Perasaan tidak terima terhadap hubungan yang kurang baik dan tindakan oknum dan pemerintah Malaysia yang kruang meyenangkan akhir-akhir ini menjadi pemicu intimidasi mental oleh penonton pada pemain-pemain asal Negeri Jiran, bahkan sampai membuta penonton rela untuk mendukung pemain China yang merupakan rival nomor satu dalam dunia bulutangkis.Luarbiasa!!
Nah, mengingat partai selanjutnya dalah tunggal putra antara Taufik Hidayat (Indonesia) melawan Lee Chong Wei (Malaysia), saya tidak sabar menunggu bagaimana dahsyatya dukungan penonton pada Taufik jadinya nanti. Sayang, sebelum pertandingan dimulai tukang pijat yang dibooking oleh keluarga sudah datang, dan tiba giliran saya untuk dipijat...Hmmm enak juga pijatannya, tapi sayang setelah selesai pijat saya mendapati Taufik yang dikalahkan oleh Lee. Sedih!!
Pertandingan berjalan alot, hingga akhirnya selesai dalam tiga set. Kejutan terjadi, karena Saina yang kurang diunggulkan akhirnya keluar sebagai juara, karena mampu bangkit pada set kedua dan ketiga, setelah kalah pada set pembuka. Pertandingan menurut saya berjalan alot, dan akhirnya yang menentukan adalah kengototan untuk menang dan mental juara yang sekeras baja.
Komentator di televisi, Ivana Lie, menyebut menurutnya pertandingan kurang menarik karena angka yang tercipta kebanyakan karena kesalahan pemain lawan. Memang benar pendapatnya, namun dari sisi pandang berbeda hal itu menunjukkan bahwa kedua pemain berada pada level kemampuan yang (hampir) setara, sehingga harus menunggu kesalahan lawan baru biasa tercipta angka. Seandainya lawan mereka adalah tunggal putri dari Indonesia, mungkin akan banyak angka yang tercipta dengan bersih dan kekalahan menjadi berada dipihak kita.
Saya tidak sedang bersikap pesimis, namun ingin menyoroti masalah mental dan keinginan untuk menang. Hal ini melintas dibenak saya ketika melihat betapa keras perjuangan Saina yang kalah dari segi postur tubuh dan power mampu menutupi kekurangannya itu dengan foorwork dan pergerakan tubuh yang lincah untuk mengejar kemanapun bola diarahkan Wang Lin, sehingga pada akhirnya Wang Lin sendiri yang mati langkah karena tidak menduga bolanya bisa dikembalikan oleh Saina.
Nah untuk mampu bergerak lincah dan melakukan foorwork yang baik sepanjang pertandingan dengan konsisten, selain diperlukan staina yang prima juga dibutuhkan ketangguhan mental dan determiansi tinggi. Sehingga tidak down hanya karena kecolongan satu atau dua angka, dan fokus untuk mengejar dan meemnangkan pertandingan. Ironisnya, pelatih kepala Tim India adalah Atik Jauhari yang berasal dari Indonesia. Nah, pemain-pemain Indonesia betulnya tidak kalah secara teknik, namun memang staimina power dan yang terpenting mental harus dibenahi. Ketidak stabilan penampilan pemain-pemain Indonesia lebih dikarenakan, menurut saya, masalah mental ini. Kengototan kadang terlihat kadang tidak, sehingga prestasi kurang stabil. Bagaimana caranya supanya tampil ngotot setiap saat, itulah yang harus dicarai kuncinya.
Hal menarik yang mencuri perhatian adalah ramainya dukungan dari penonton Indonesia kepada Saina, padahal dia bukan wakil Indonesia. Ini lebih diakarenakan lawannya, Wang Lin, yang berasal dari China merepresentasikan kekuatan rival Indonesia di dunia bulutangkis sejak lama. Menarik sekali, karena walau sedih dengan tidak adanya tunggal putri Indonesia yang bermain di Final, penonton tetap bisa menyalurkan antusismenya dan tetap memberikan atmosfer yang luarbiasa sepanjang pertandingan.
Kejutan dari penonton terjadi lagi sewaktu partai ganda putri antara pasangan China dan Malaysia digelar. Pendukung Indonesia yang biasanya anti mendukung pemain dari China tiba-tiba berubah perangai dan bersorak-sorai meneriakkan dukungan pada pasangan China. Nampaknya efek memburuknya hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia menjadi pemicu hal ini, bahkan ditengah pertandingan tidak lupa teriakan nama Manohara, juga diselipkan sebagai bentuk intimidasi pada pemain Malaysia. Namun tidak seperti partai tunggal putri, kali in idukungan penonton tidak berhasil membawa keberuntungan bagi pasangan China dan pasangan Malaysia akhirnya menjadi juara Indonesia Open 2009.
Rupanya, rivalitas dalam olahraga bisa dilupakan sejenak bila sudah menyangkut harga diri bangsa dan nasionalisme. Perasaan tidak terima terhadap hubungan yang kurang baik dan tindakan oknum dan pemerintah Malaysia yang kruang meyenangkan akhir-akhir ini menjadi pemicu intimidasi mental oleh penonton pada pemain-pemain asal Negeri Jiran, bahkan sampai membuta penonton rela untuk mendukung pemain China yang merupakan rival nomor satu dalam dunia bulutangkis.Luarbiasa!!
Nah, mengingat partai selanjutnya dalah tunggal putra antara Taufik Hidayat (Indonesia) melawan Lee Chong Wei (Malaysia), saya tidak sabar menunggu bagaimana dahsyatya dukungan penonton pada Taufik jadinya nanti. Sayang, sebelum pertandingan dimulai tukang pijat yang dibooking oleh keluarga sudah datang, dan tiba giliran saya untuk dipijat...Hmmm enak juga pijatannya, tapi sayang setelah selesai pijat saya mendapati Taufik yang dikalahkan oleh Lee. Sedih!!
No comments:
Post a Comment