Kadang-kadang saya berpikir agak dalam jika menghadiri perayaan ulang tahun. Baik ulang tahun teman, organisasi, perkumpulan ataupun ulang tahun kemerdekaan negara kita. Tidak jarang ada sesuatu yang spesial terkait dengan jumlah perayaan, semisal ulang tahun perak pada usia ke-25 dan ulang tahun emas pada usia ke-50. Dalam tradisi lain, ada ukuran tersendiri semisal dasawarsa (10 tahun) dan sewindu (8 tahun). Bila kita lihat secara khusus pada usia manusia,kuran-ukuran yang ada biasanya menandakan tingkatan tertentu pula, semisal tingkat kedewasaan ataupun kematangan seseorang, lihat istilah-istilah "sweet seventeen","life begins at forty", "usia setengah baya" dan "lanjut usia". Ungkapan-ungkapan tersebut meski tidak berada dalam suatu himpunan yang sama, namun memberi kita suatu contoh bagai mana ulang tahun dan usia, selalu berhubungan dengan penanda.
Yang menjadi pertanyaan adalah, sejak kapan usia dalam angka (1 tahun, 2 tahun,,dst) menjadi suatu ukuran. Hal ini menjadi penting, karena adanya sistem ini merubah beberapa hal, yang mungkin tidak menjadi penting bila sistem ini tidak dipakai.
Pada dasarnya usia hanyalah satu. Ya, usia hanya satu, dan itu dimulai saat seseorang dilahirkan dan berakhir saat seseorang meninggal, ini yang saya sebut "usia linier". Jadi usia itu tidak berulang, dan kita selalu bertambah tua serta menjalani pengalaman yang berbeda tiap waktunya. Ukuran berapa tahun yang kita sudah kita lewati, pada mulanya adalah hitungan untuk menghitung siklus musim, ini berkaitan dengan kepentingan mengetahui musim, baik untuk keperluan agraris, maupun perjalanan dagang pada jaman dulu. Nah, kemudian ukuran ini digunakan untuk menandai sudah seberapa lama waktu yang dihabiskan seseorang di dunia ini. Ukuran tahun, dasawarsa, windu adalah penanda jangka waktu tadi, nah ini yang saya sebut "usia siklis".
Semisal kita sandingkan kedua usia ini, akan kita dapati bahwa usia siklis menjadi titik-titik penanda pencapaian sesorang sepanjang usia liniernya. Misal, lahirusia 0th-sunat usia 13th-lulus kuliah usia 23th-menikah usia 27th-anak pertama usia 29th-cucu pertama usia 50th-pensiun usia 65th-meninggal usia 78th. Nah, bila kita lihat dari awal hingga akhir usia liniernya, terdapat penanda-penanda dimana ada pencapaian tertentu. Fungsi usia siklis disini adalah untuk memudahkan pengukuran dan penandaan pencapaian-pencapaian ini.
Bila kita lihat tradisi kakek-nenek kita,kelahiran seseorang biasanya ditandai dengan peristiwa yang terjadi pada tahun dimana seseorang lahir. Misal orang yang lahir pada 1945, akan diingat sebagi "lahir sewaktu Indonesia merdeka", orang yang lahir 1965 akan disebut "lahir pada saat Gestapu". Nah, dengan adanya perbedaan kebiasaan penggunaan ukuran usia inilah, kadang menimbulkan perbedaan, yang semisal dilihat pada satu kacamata saja menjadi persoalan yang pelik.
Pada kebiasaan lama di masyarakat kita, bila seseorang sudah mampu memegang telinga kiri denagn tangan kanan dengan melewati bagian atas kepala maka dia sudah saatnya masuk sekolah. Sedangkan pada masyarakat sekarang biasanya, anak masuk sekolah (Sekolah Dasar) pada usia sekitar 7 tahun, meskipun dia belum mampu memegang telinga seperti ditulis diatas tadi. Ini contoh kecil, dan tidak terlalu signifikan.
Menjadi penting, bila kita kaitkan dengan lembaga "Pernikahan". Pada masa lalu, dalam ukuran bangsa kita yang mayoritas Muslim, seseorang pria yang sudah balig (ditandai dengan pengalaman mimpi basah) dianggap sudah layak menikah. Sedangkan wanita yang sudah mendapatkan menstruasi, juga dianggap layak menikah. Ini dikarenakan kedua hal tadi adalah penanda matangnya organ reproduksi seseorang, sedangkan salah satu tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan, sesuai prinsip "banyak anak banyak rezeki" yang populer saat itu, pada masa agraris yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Maka tidak heran bila pasangan menikah di usia skitar 15 tahun bukanlah hal yang aneh, bahkan bila usia 20 tahun dan belum menikah akan dikatakan sebagai "perjaka/perawan tua".
Yang juga wajar terjadi, adalah pengantin pria yang jauh lebih tua dari pengantin wanita, katakanlah selisih 20 tahun. Ini dikarenakan dalam konteks masa itu, usia siklis belumlah menjadi patokan umum untuk menandai pencapaian-pencapaian seseorang. Jadi selama si pria sudah dewasa dan produktif dan si wanita sudah memasuki usia produktif juga, menikah dengan selisih usia yang sangat jauh bukanlah tabu.
Nah sekarang saya ingin mengulas bagian sensitif dari tulisan ini. Banyak kasus terjadi sekarang ini, pernikahan dengan mempelai wanita dibawah umur (umur siklis tentunya). Kebanyakan bila kasus terjadi pada seorang Muslim, maka kisah Rasulullah SAW yang menikahi Aisyah diusia 9 th yang dijadikan patokannya. Mari kita coba renungkan. Kisah Rasulullah SAW terjadi seribu empat ratus-an taun yang lalu. Tentu dijaman itu usia siklis belumlah menjadi ukuran umum, alias belum menjadi penanda pencapaian tadi. Sehingga ukuran layak-tidaknya menikah adalah sudah mampu bereproduksi atau belum, bila kedua pasangan masih atau sudah mampu bereproduksi, tentu tidak ada maslah pada konteks jaman itu.
Menjadi kurang tepat, bila alasan yang sama digunakan pada jaman sekarang. Tentu alasannya bukan karena "ukuran penanda usia" yang berubah, namun lebih dikarenakan dengan adanya usia siklis sebagai penanda, kita semakin mudah mempetakan secara ideal, pada usia berapa seseorang matang secara fisik (organ reproduksi) dan secara emosional siap untuk menjalani sebuah pernikahan. Hal-hal ini tidak saja membawa manfaat pada pernikahan itu sendiri, namun juga membawa manfaat pada sisi kesehatan, baik kesehatan pasangan maupun anak yang dilahirkan kelak. Denagn fisik pada masa puncak, akan menghasilkan anak-anak yang sehat, sedang kematangan emosional akan menjamin terpenuhinya kebutuhan anak akan kasih-sayang dan pendidikan yang lebih baik dirumah.
Oleh karenanya, saya rasa ukuran yang ada (usia sikliis) seharusnya juga dijadikan patokan menyangkut hal ini, walaupun bagi umat Muslim ada contoh yang tadi saya sebut diatas, namun sekali lagi konteks jaman sudah berbeda. Dan ini berarti masalah fisik dan emosional kan mengalami pengalaman yang berbeda pula.